Selasa, 08 Juli 2014

#Kopi Jelang Pilpres 2014

Kopi hitam mendingin, berapa jam lamanya ia begitu setia menemani kesendiranku. Saat ini, aku masih butuh kopi hitam. Iya, begitu ada dan aku tak akan mencari-cara penyebab apa yang membuat aku membutuhkannya. Mungkin salah satu alasan yang tepat, yakni kopi hitam ini rela dijadikan lampiasan rasaku.

Berbicara rasa apa yang tengah kurasakan saat ini untuk lebih tepatnya jelang pencoblosan pilpres 2014.  Ada rasa marah, haru, sedih, dan memuakkan. Rasa tersebut saling bertempur  untuk menguasai diriku dan selanjutnya tinggal ditunggu, apakah akan mengumbar kemarahan secara membabi buta, atau hanya tertunduk lesu dipojok kamar 3x4 M.

Apakah aku pesimis? Sejujurnya aku menjawab iya, aku pesimis dengan jualan dalil-dalil suci hanya untuk memuluskan seorang pada jalur kekuasaan. Aku pesimis menyaksikan seorang berhak untuk menilai keimanan, maka tak heran kata sesat atau kafi begitu mudah diungkapkan. Aku sangat pesimis hal-hal tersebut bakal terhapus di Indonesia selama para alim ulama, intelektual bercampur dalam lingkaran kekuasaan.

Apakah mereka tak perlu terlibat dalam politik? Naif kalau aku menjawab dengan kata iya bahwa mereka harus terpisah dengan politik kekuasaan. Itu hak mereka untuk melarutkan segala nilai yang terkandung di dalam diri seseorang.

Tengah-tengah percampuran rasa, tertawa mungkin akan lebih nikmat dalam memandangnya. Sambil mencoba tertawa lepas sejadi-jadinya, Itu pilihan selain mencurahkan pada secangkir kopi hitam ini. 

Kala ingin menyudahi  ekpresi ini, entah datang dari mana tiba-tiba  aku teringat seseorang di kampung halaman. Iya hanya seorang pengurus mushola. Sebagaimana yang sudah dipahami masing-masing, pengurus ini akan lebih dulu berada di mushola jauh sebelum imam datang dan pulang paling belakang, tak jarang ia ditunjuk sebagai imam.

Dalam kehidupan sosial, ia tak sungkan untuk nongkrong bersama remaja. nongol di rumah RT saat rapat beralngsung, ikut terlibat dalam membersihkan got-got saat kerja bakti, dan lain-lain. Atas apa yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, dia kadang lebih sering mendapat undangan untuk warga ketimbang ustaz yang ada. Mungkin warga akan lebih mengagap dirinya sebagai ustaz

Sebagi orang mempunyai cukup pengaruh, dia juga mempunyai hak politik sama dengan warga kampung. Sebagai pandangan politik, ia tak sungkan mengkampanyekan siapa yang pilih sebagai presiden.

Namun, hal yang menarik aku tak pernah mendengar sekalipun dia membawa dalil-dalil agama saat berkampanye di warung kopi. Jika pilihan orang berbeda dengan dirinya, dia hanya tertawa tanpa mengeluarkan kata-kata kafir, sesat, dan kata-kata yang hanya membuat orang marah.

Salam, rindu ngopi bareng 






Rabu, 02 Juli 2014

Curhat Secangkir #Kopi

JalaRasa, #Kopi
Ini adalah kopi Toraja, mungkin karena dari daerah asalnya sehingga kopi dinamakan  kopi Toraja, mari untuk menghentikan pembahasan tersebut. Satu hal yang menjadi kesalahan saya adalah, saya baru mengenal kopi ini sehingga cukup terlambat menyadari akan kenikmatan kopi tersebut. Tapi, rasa-rasanya itu bukan mutlak kesalahan saya.

Saat ini, saya tengah menanti cairan panas kopi ini yang sebenarnya sudah tak ada sisa kesabaran lagi. Mungkin menunggu adalah daya tarik atau mungkin ada tips menarik lainnya tentang tata cara menikmati kopi ini. Berbicara tips, sejujurnya saya hanya penikmat kopi, cukup itu saja.

Dalam menunggu saya merasakan  sepersekian detik sungguh berasa dan saya sebisa mungkin  memberikan kesabaran.Mungkin ini untuk sebagian orang terlalu dilebih-lebihkan, itu hak mereka untuk berpikir demikian. Tapi, jelas bagi saya, kopi Toraja bukan sekadar kopi dan cairan hitam ini terlalu personal bagi saya.

Bagi mereka yang telah merangkai tips menikmati kopi, untuk satu hal saya sepakat menikmati kopi secara perlahan-lahan, membiarkan rasa yang sebenarnya terungkap dibalik rasa pahit. Iya, kopi tanpa gula ini yang selalu saya pilih. Bagi yang tak suka dengan rasa pahitnya tak usah digubris atau mencaci.

Saya merasa enggan untuk berkomentar ria terhadap kopi apa yang mereka pilih, apakah manis, kopi susu, atau lain-lainnya, itu sama saja kopi.  Sama halnya dengan kondisi Indonesia jelang Pilpres 2014.

Peralahan namun pasti, berharap leyapkan rasa muak yang tak terbendung lagi. Membiarkan marah ikut terlarut pada kopi, hal yang masih saya  lakukan dan kuharap antara mereka demikian.  Naif benar jika kopi dikaitkan dengan perebutan kekuasaan.

Baiklah, kemarahan saya secara terang benderang. Inikah yang disebut fanatik? Menyimak berita yang saling menjatuhkan, komentar miring mungkin itu sudah hal yang lumrah dalam demokrasi. Coba tanyakan pada para pengamat?

Masih cukup lumrah, saat kabar meninggal seseorang disikapi secara politik, apakah cukup lumrah sebuah media dengan lihai menggiring untuk bersepakat ria mengatakan dirinya adalah seorang komiunis atau apa juga mendukungnya dengan membawa ke persoalan akherat.

Jelas, ini telah keterlaluan dan saya sendiri telah melanggar bahwa blog ini enggan diisi dari berbau politik.  Atas keberhasilnya mengubah alur blog ini, saya ucapkan Selamat dan semoga tak terselip sedikitpun rasa sesal telah mendukung secara gila.