Tampilkan postingan dengan label #Ngelancong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #Ngelancong. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 April 2025

Ngeblong, Kopi, Dan Gaya Berpakaian Street Style



Ngeblong dan kopi, dua hal yang bagi saya sesuatu sulit dipisahkan. Yups, aktivitas ngopi akan selalu ikut serta termasuk saat ngebolang. Pada saat rehat atau nongkorong, maka sudah sangat cocok untuk ngopi, setidaknya sebagai pelepas lelas sebelum kembali berlanjut melakukan aktivitas ngebolang.

Dan kamu pun sudah paham benar, bukan. Bahwa kopi tak hanya sekadar suguhan air hitam semata. Tapi, lebih dari itu. Bahkan kerap kali kita sengaja melakukan perjalanan hanya untuk memburu minuman yang bernama kopi. 

 Iya, kita sengaja ngebolang hanya untuk mendapatkan secangkir kopi. Dan pada saat tesuguhkan secangkir kopi, kamu bebas bercerita apa saja. . aku dan kamu pada kopi ditemukan sebuah kebebasan, kita pun merasa merdeka. Maka wajar saja ada penggalan lirik yang "ngobrol di warung kopi,' Warkop DKI. 

Gaya Berpakaian Street Style

Adakah hal yang saling berkaitan antara ngebolang, kopi dan gaya berpakaian ala street style. Mungkin kesannya terlalu dipaksakan, pada pada kenyataan memang saling berhubungan. Setidaknya, bagaimana obrolan berjalan intim jika model pakaian kamu pun berbeda, kamu terlalu nampak serius dengan tampilan kelas atas. 

Tentunya, akan terasa lebih nyaman dan romantis bukan. Coba lihat sekeliling, pada kedai kopi yang berada di pinggiran Jakarta ini. Bagaimana anak muda berpakaian. Sebuah pemandangan yang bisa kamu tiru atau setidaknya menjadi inspirasi pakaian gaya street style,

Kita bukan bagian dari budaya pop, celetoh mu. Lantas kita bagian dari mana, kita juga bukan dari planet mars yang ada di tengah-tengah anak muda. 

Atau kita sedang menjadi aliasn di sebuah kedai ini. 
 
Baiklah, kita sekarang membas tentang budaya pop, sebuah gaya berpakaian ala street style yang dipandang seabgai budaya pop, itu versimu. 

1. kaos dipadukan celana levis

apakah yang kamu kenakan, kamu tidak sedang mengenakan jas atau model gaun layaknya ke pesta. Bukanya pakaian yang kamu kenakan adalah kaos dengan bawahan levis. Yups, model ini kasual yamg samgat cocok untuk kita pakai untuk ngeblong atau memburu kopi. 

2. Tank Top

model pakaain atasan apa yang sedang dipakai, tank top saat nongkrong setelah melakukan perajalanan ke sana-kemari. ngebolang ini. 

 

Rabu, 05 April 2017

Menanti Tari Kecak dan Senja di Pura Uluwatu, Bali




 JalaRasa,- Ngelancong,- Aku begitu tertegun memandangi bangunan-bangunan yang menjulang pada tebing pantai. Terlintas adalah bagaimana cara membangunnya? Akh, aku juga bukan lagi menelusuri sejarah perihal pembangunan pura ini dan saya sendiri yakin banyak yang telah membahas.

Saat ini, masih kurang dari dua jam tiket tari Kecak akan dibuka, penampilan akan dimulai pada pukul 17.00 WITA. Maka nikmatin saja sambil menanti Senja di Pura Uluwatu, Bali. Untuk itu, aku memberikan tema ini adalah menanti Tari Kecak dan Senja.

Kisah ini bermula dari keputusan kami yang sedang menghabiskan waktu di Pulau Dewata dan rasanya kurang lengkap jika tak menyaksikan sebuah pertunjukkan khas Bali.

Dan pada akhirnya kami memutuskan untuk menyaksikan tari Kecak di Pura Uluwatu. Sebuah keputusan yang diambil didasarkan pada rujukan dari teman-teman blogger. Menurut kabar yang beredar, penampilan tari Kecak di tepi pantai dengan pancaran matahari tenggelam, sungguh membuat perasaanku tak sabar.

Kami meluncur dari Hotel Amaris, Legian menuju Puru Uluwatu. Perjalanan lumayan jauh ini ditempuh dengan kendaraan roda dua. Sebelumnya, kami juga singgah di pantai Pandawa, Bali. Pantai ini masih tergolong sepi pengunjung jika disejajarkan dengan pantai Kuta atau pantai Legian atau mungkin memang lagi sepi pengunjung, entalah.

Minum kelapa muda, ngerokok sambil mengamati deburan ombak. Yak kurang lebih begitulah aktivitas sepanjang di Pantai Pandawa. Selebihnya hanya jepret-jepret enggak jelas.

Merasa puas, kami  melanjutkan perjalanan menuju pura Uluwatu. Perjalanan dari Pantai Pandawa ke Puru Uluwatu terbilang cukup sepi. Sepanjang perjalanan, jalanan yang menembus pepohonan terkadang dijumpai juga jalan yang tingkungan menanjak. Namun, jalan raya cukup halus jauh berbeda dengan memasuki kabupaten Cilacap dari Ciamis, jalan raya penuh lubang apalagi saat memasuki kawasan Majenang, Cimanggu.

Setibanya, kami membeli tiket masuk. Oh iya, untuk masuk pura Uluwatu terdapat peraturanya, yakni bagi yang mengenakan celana pendek maka ia harus mengenakan kain yang dikenakan mirip seperti orang mengenakan kain sarung.

Sementara, bagi yang sudah mengenakan celana panjang maka ia cukup mengikatkan selendang pada pinggang.

Perihal penampilan tari kecak sendiri, kita mesti membeli tiketnya kembali. Loket penjualan tiket akan dibuka beberapa menit sebelum pementasan dimulai.

Sayang, senja yang diharpakan tak dapat juga. Ya sudahlah






Minggu, 02 April 2017

Ngelancong, Mengejar Senja ke Tanah Lot, Bali

Ngelancong, Tanah Lot, Bali adalah target terakhir kami selama berpetualang di Pulau Dewata.

Rencana ke Tanah Lot muncul dengan alasan senja. Maklum saja sepanjang ngelancong di Bali kami tak kunjung mendapati  senja yang benar-benar. Tanpa perjumpaan dengan senja rasanya kurang puas terutama bagi saya sedang sibuk-sibuknya bergaya fotografer profesional saja.

Banyak dikatakan blog sampai wikipedia, Tanah Lot banyak dikunjungi lantaran bukan hanya pura semata, tapi juga senja.

Atas dasar tersebutlah, maka kami sepakat untuk meluncur ke Tanah Lot dengan menyebutnya sebagai misi mengejar senja ke Tanah Lot.

  
Sebelumnya kami  menghabiskan waktu di Ubud dengan beragam macam wisata alam dan Pura Uluwatu dengan harapan dapat  menyaksikan tari kecak di bawah pancaran sinar matahari yang mulai tenggelam.

Dua hari tiga malam adalah waktu berleyeh-leyeh di villa Ubud Luwih, sebuah villa yang cukup nyaman apalagi dikeliling alam dan selama itu juga kami mengujungi beberapa kawasan yang banyak ditawarkan para bloger, yakni hutan monyet, sawah dengan model terasiring dan tak beberapa lokasi di jalan raya Ubud.

Waktu nyantai di Ubud telah usai, kami memutuskan menginap di hotel Amaris, Legian. Sebuah lokasi yang bisa dikatakan berbanding terbalik dengan sebelumnya baik dari segi pelayanan, lingkungan maupun hal-hal lainya.

Jika di Ubud adalah desa maka di Legian bisa dikatakan adalah kotanya Bali jadi dapat terlihat jelas bukan perbedaan antara keduanya.

Singkat cerita ini adalah waktunya kami untuk ke Tanah Lot, perjalanan tersebut tak kalah jauh dengan perjalanan kami dari Amaris ke Pura Uluwatu.  Namun, suasana batin terasa berbeda saat mengunjung Uluwatu mungkin ini adalah hari terakhir di Bali belum lagi rental motor yang siap mengambil kendaraanya.

Sepanjang perjalanan dengan waktu yang kian mepet membaut keraguan kian hinggap apakah mungkin dapat sampai sebelum matahari benar-benar menampakkan keindahnya. Hal lainya yang kian membuat keraguaan adalah selama perjalan kerap dijumpai iringan-irangan ritual  jelang hari raya Nyepi.

Keraguan perlahan pudar juga dan kami tiba sebelum pergantian antara waktu. Matahari masih terang menyinar tempar beribadah di pinggir laut. Dan patut diakui, Tanah Lot mempunyai pesona yang tak kalah jauh dengan Puru Uluwatu maka tak mengherankan jika lokasi ini telah dipadati pengunjung.

Hampir setiap pengujung atau bisa dikatakan tak ada satu pun yang ingin kehilangan moment, tiap-tiap dari mereka sibuk dengan kamera. Bagaimana aktivitas mereka, silakan aja simka foto di bawah ini.

Pada Tanah Lot terdapat dua pura terletak di atas batu besar. Satu terletak di atas bongkahan batu dan satunya terletak di atas tebing mirip dengan Pura Uluwatu. Pura Tanah Lot ini merupakan bagian dari pura Dang Kahyangan.  Pura Tanah Lot merupakan pura laut tempat pemujaan dewa-dewa penjaga laut.

Namun sayang, berharap mendapatkan moment matahari tenggalam belum juga didapat. Pura Tanah Lot dengan segala eksotisnya terasa masih kurang lengkap tanpa sinar jingga.

Ya sudahlah mau dikata apa lagi mungkin alam lagi kurang bersahabat. hehehe



Selasa, 28 Maret 2017

Sruput Kopi Kintamani di Seniman Coffee Studio

Kopi hitam,-Bagi pecinta kopi menikmatinya maka sudah menjadi keharusan mensruputnya tanpa mengenal waktu, tempat dan lokasi.  Begitu juga dengan kami yang secara kebetulan tengah melancong ke Ubud, Bali.

Kami layaknya seorang pemburu yang tengah mencari mangsa berupa kopi khas. Dan pada akhirnya pilihan jatuh pada Seniman Coffee Studio, yakni salah satu kedai kopi yang terletak di jalan raya Ubud, Bali.

Sore hari tepatnya saat hujan belum benar-benar reda, kami nekat meluncur. Setibanya, kedai kopi ini telah disesaki sejumlah wisatawan asing.  Meski demikian, kehadiran kami tetap mendapat sambutan ramah dan mempersilakan untuk memilih tempat duduk.

Kami memilih tempat  yang menghadap jalan raya memang. Alasan utama ialah tempat terasa lebih nikmat jika menghisap rokok dan yang tak kalah penting terlihat tak terlalu sumpek dengan padatnya pengujung. Dengan begitu akan terasa lebih nyaman apalagi dengan tempat duduk yang sebenarnya sama saja dengan tempat duduk pada umumnya terbuat dari plastik cuma bagian kaki bangku terapat lengkungan kayu jadi mirip kursi goyang. Jadi ngopi kian santai dengan goyangan kursi.

Seorang datang dengan membawakan secarik kertas berupa catatan menu. Ia menjelaskan beragam jenis menu yang dapat dinikmati termasuk kopi. Menurunya, semua kopi yang ada disini merupakan hasil racikan sendiri dari biji kopi, proses sangrai hingga penggilingan.

Untuk proses sanggrai dan penggilingan tepat di hadapan hanya terhalang jalan raya.  Kami pun saling berhadapan dengan proses dari biji kopi hingga menjadi bubuk yang siap diracik. Ia pun menawarkan jika ingin melihat langsung bagaimana biji kopi diolah.

Penjelasan secara rinci dan hampir setiap pertayaan dijawab penuh senyuman menambah plus kedai kopi ini. Ia menambahkan,  biji kopi yang siap disajikan terdapat beberapa macam varian dengan tingkat yang berbeda dan biasanya untuk orang Indonesia lebih menyukai premium dengan alasan lebih pahit.

Bagi saya secara pribadi jika mengunjungi sebuah wilayah maka pilihan utama adalah kopi khas daerah tersebut. Itulah alasan mengapa saya memilih kopi hitam dengan diracik tubruk khas Bali, yakni Kintamani.

Sementara itu,ia memilih kopi Latte dan saya sendiri sebagaimana yang sudah-sudah, pilihan jatuh pada kopi hitam dengan racikan tubruk. 

Waktu terasa berjalan begitu lambat mungkin sudah tak sabar lagi untuk sruput kopi. Dalam penantian yang cukup panjang bagi orang yang sudah tak sabar ini, saya mencoba lebih memilih untuk mengamati sekitar tempat ini.

Seniman COffe Studio bisa dikatakan cukup unik, dari dua sepeda tua yang menggantung tepat di pintu masuk dan tak ketinggalan adalah cangkir yang seperti terbuat dari botol minuman yang .

Akhirnya tiba juga, secangkir kopi hitam kintamani dan kopi Latte. Saya yang sudah tak sabar menikmatnya pun langsung mencium kepulan asap.

Sruputan terus berlanjut, kopi ini terasa begitu sayang untuk ditinggilkan begitu saja.

Bagaimana rasa  kopi Kintamani dengan racikan para barista di Seniman Coffee Studio silakan langsung saja dirasakan apalagi jika teman-teman tengah berkunjung ke Ubud, Bali, Indonesia

Untuk lokasinya sangat mudah dijangkau,


Seniman Coffee Studio

Jalan Sriwedari No. 5 Ubud, Bali

80581 Indonesia

Telepon 081236076640

Selasa, 07 Maret 2017

Pada Stasiun Itu

jalarasa,- Ngelancong,-

 Saat foto disodorkan maka akan terlahir beragam penafsiran. Sejumlah makna bermuculan  malah sangat dimungkinkan tak pernah terpikirkan sang pemilik foto. 


Ngelancong untuk singgah sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Kurang lebih begitulah gambaran saat aku diharuskan berganti kereta.

Pada salah satu stasiun di kawasan Jakarta, menanti kehadiran kereta yang bakal mengantarkan pada sebuah titik.

Sebagaiamana yang sudah-sudah dan mungkin dalam beberapa tahun ini, apa yang dinamakan stasiun tak akan pernah sepi kecuali kereta berhenti menjalankan fungsing sebagai kendaran angkutan masal.


Pada sebuah stasiun yang cukup padat, beragam latar belakang, gaya hidup, cara pandang melebur menjadi satu dengan tujuan yang sama, yakni kereta.

Kala itu juga maka berbeda bukan lagi menjadi penting.



Senin, 06 Maret 2017

Lalu Waktu dan Aku

JalaRasa,- Ngelancong, perjalananku dijumpai
pohon yang tumbuh di tepi jalan. Darinya terdapat bunga berwarna putih yang tengah mekar-mekarnya. Maka rasanya tak mengherankan jika terpancar keindahan bagi siap saja yang menyempatkan diri untuk sejenak singgah.

Yup, bunga mekar dengan kelopak putih indah lalu waktu menyisakan segala kenangan. Kini yang terdapat hanya bunga dengan kelopak mulai berceceran. Cerita bunga mekar berganti dengan bunga layu.

Waktu pada putaran merenggut keindahan bunga tepi jalan. Waktu telah melakukan serangan begitu dahsyat. Lalu bunga hanya bisa pasrah menerima serangan. Bagi bunga sekuat mempertahan kelopak agar tetap terjaga hanya impian semata.

Sejauh mana bertahan agar tetap terjaga segala macam keindahanya? Kurang lebih begitulah, sebuah putaran waktu yang membawa pada perjalanan dan pada titik-titik tertentu lalu lenyap. Mungkinkah akan mengenangnya, entalah.



Sabtu, 28 Januari 2017

Pada Kedai Kopi Itu, Cerita Baru Tersaji

Dan kita sengaja memilih tempat ini, iya pada sebuah kedai kopi yang akan membawa pada sebuah ketukan-ketukan terkadang terasa lebih romantis atau sebaliknya ketukkan yang meluluhlantahkan rasa, pasti kedai kopi bagi selalu mempunyai cerita yang begitu unik seunik kopi yang tersaji.

Bukankah begitu, aku dan kamu selalu mencari alasan yang tepat untuk mengumbar rasa.

Tak adalagi kepulan asap menghantarkan aroma, cairan hitam dingin yang pada mulanya  terasa begitu menggubu seakan ingin cepatlah apalagi yang akan kau tunggu?

Lalu tanpa aba-aba mata menatap mata.    

Apalagi yang bakal diungkap saat tetesan kopi menyentuh ujung lidah? Kata-kata bisu dan aku tak cukup lagi melahirkan sebongkah bualan, kopi ini dingin.

Yak sudahlah kita nikmati saja mau dibilang apalagi memang sudah begitu adanya, waktu menyisakan kenangan  dan mengantarkan cerita baru yang bisa saja menjadi unik dan cerita indah kelak.

Pada kedai itu, kopi ini dingin dan lidah masih saja kelu lalu mata menatap mata.

Kopi ini dingin, maukah kamu singgah pada kedai kopi selanjutnya dan membiarkan cerita unik lahir. Sebuah cerita yang penuh harap pada sebuah waktu yang mana aku dan kamu tak lagi rasa malu menatap penuh gelora.

Dan sebuah cerita layaknya dongeng pengantar tidur anak-anak.

 


 

Rabu, 04 Januari 2017

#Ngelancong, Situ Gintung Ubah Cerita Kota

Jala Rasa, #Ngelancong menyepi dari hiruk-pikuk  Jakarta maka sudah menjadi sesuatu banget

Meski hanya sejenak saja tanpa ada suara knalpot yang bercampur saut-sautan klakson.

Dan setidaknya, sore itu Situ Gintung memberikan warna tersendiri. Warna yang asing untuk sebuah kota.

Hamparan air, langit biru menyapa, lukisan alam mengubah cerita kota. Kota  terasa begitu tenang tak ada lagi tontonan kabar burung yang entah berantah penuh drama.









Senin, 12 September 2016

#Ngelancong Nikmati Senja

Jala Rasa,- #Ngelancong pada suatu daerah untuk menikmati keindahan alam, menikmati saat bulan bersiap menampakan diri. Sungguh terasa begitu menyenangkan.

Mengenai hal demikian sudah tak perlu diragukan lagi. Buktinya, sampai saat ini begitu banyak orang termasuk saya  yang rela mengorbankan waktu, uang dan dan lain-lain hanya untuk menikmati senja.

Terkadang keindahan sendiri hadir dikesikitar dan saya dapat menikmatnya tanpa harus menjelajahi sebuah kawasan. Meski demikian, #Ngelancong bahkan bisa keliling Indonesia adalah sebuah impian yang entah sampai kapan bakal terwujud.

Yak sudahlah, mungkin untuk saat ini saya cuma hanya sebatas yang sangat munkgin terjangkau. Hal ini terkadang membuat saya berpikiran, keindahan merupakan sebuah cerminan semata. hehehe


Jumat, 02 September 2016

Ngelancong Lombok, Mendaki Rinjani

#Ngelancong atau bepergian bahkan kalau bisa menjelajahi tiap jengkal Nusantara.Namun  sayang, sampai saat ini saya lebih sering  menikmatinya  melalui blog atau sejenisnya yang menampilkan betapa eksotisnya kawasan tersebut.

Dari sekian begitu banyak daerah-daerah yang begitu eksotis, ada satu kawasan yang sudah lama tercampun dalam daftar susunan kawasan yang bakal dikunjungi, yakni Lombok (Nusa Tenggara Barat)  terutama mendaki gunung Rinjani. Entah mengapa masih saja tetap mengendap dalam bantin ini padahal keingin tersebut telah bertahun-tahun lamanya.

Rinjani sebuah gunung yang berada urutan kedua tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 3.726 m dpl ini sepertinya tak akan bakal menguap begitu saja. Keinginan untuk berdiri di puncak hingga kini malah kian kuat.   

Dan seperti biasa saat keinginan itu begitu kuat, saya kembali menyusun rencana sambil menikmati beberapa potret perihal pesona Rinjani. Dari beberapa blok yang mengisahkan perjalanannya,entalah anggap saja dia benar-benar pernah mendaki.

Pada blog tersebut dipaparkan secara rinci perihal jalur pendakian, disebutkan ada dua jalur, yakni Sembalum dan Senaru dengan jarak tempuh memakan waktu 4-5 hari. Yups, untuk mendaki bisa melalui Semblum dan turun melalui Senaru atau sebaliknya.

Perihal mengenai lebih rinci soal pendakian silakan dibuka sendiri pada blog yang beralamat di http://manusialembah.blogspot.co.id/ atau blog-blog lainnya.

Maaf saat ini, saya lagi enggan mencatatakan perjalanan tersebut lantaran biarlah catatan tersebut terlalir dari pengalaman sendiri meskipun belum jelas kapan pastinya. hehehe

Kalau pun sudah terlakasan pasti bakal tertulis disini lengkap dengan protret-potret yang dari seorang amatiran. hehehehe.

Dan cacatan ini dimaksudkan ternyata sebagai penghibur atas keinginan yang belum juga terwujud, yakni #Ngelancong ke Rinjani. hehehe.


Senin, 29 Agustus 2016

Ngelancong, Main Hujan-hujanan

Jalarasa,- #Ngelancong atau berpergian menyaksikan tempat-tempat indah, sebuah tempa yang dapat mengugah rasa, terpana pada pesona alam. Wah, mau banget apa lagi untuk sebuah kawasan yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

Namun apalah daya, pada kenyataan banyak kawasan tersebut belum juga terjangkau. Entalah, mungkin masih angan-angan semata sambil berharap keajaiban bakal datang. hehehe.

Ketimbang ngelamun dan keajabain tak kunjung datang, aku putuskan aja mengunjungi teman, itung-itung sekalian minum #kopi hitam gratis. Bukanya  ini sama aja, yang membedakan adalah kawasan yang bakal dikunjungi dan utamanya adalah dana.

Ngelancong pun dimulai, tak lama berselang hidangan kapi panas tela siap disruput. Sambil menikmatnya, rinai hujan mulai mengguyur kawasan Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Anak-anak mulai berkumpul di pinggir rel kereta api, mereka seakan tela merelakan badanya diguyur hujan dan menanggung resiko terbesar, yakni  omelan dari sang ibu.

Peristiwa ternyata membanwa pada kampung halaman, saat itu hujan adalah kejadian yang selalu menyenangkan untuk bermain bola. Dan mungkin kejadian bakal sama dengan anak-anak yang tengah hujan-hujan, saat tiba di rumah maka tamparan bakal mendarat di paha. Sambil menangis, ibu galak. heehe

Foto yang di atas adalah salah satu foto yang saya berhasil dijepret. Untuk foto-foto lainnya, lain kali aja

Sabtu, 27 Agustus 2016

Lagi dan Lagi Tentang Senja

Jala-Rasa,- Berbicara tentangnya tak cukup kata untuk dapat mendeskripsikannya. Mungkin sudah tepat jika ia hanya untuk dinikmati apalagi sambil sruput #kopi. Oh, sungguh terasa damai. Siapa coba yang tak akan terpikat dengan pancarannya?

Setahu saya sepanjang #Ngelancong, sudah banyak orang yang  tergila-gila termasuk sastrawan sekaliber Seno Gumira Ajidarma nekat mencuri senja untuk pacarnya. Terbanyang bukan, bagaimana daya pikat senja.

Yups, semuanya tentang senja. Aku untuk kesekian kali terpengarah menatapnya. Sial, ia terlalu cepat berlalu begitu saja. Bisa jadi ini yang membuat sebagian orang stres sehingga ia kembali mencarinya.

Pada senja ini, aku kembali mencoba mengabadikannya. Sengaja hal ini dilakukanya bukan lantaran esok tak ada waktu untuk menikmatinya, tapi sebagai bentuk antisipasi  jika pada suatu hari ada yang mencurinya dan masyarakat kembali dihebohkan dengan berita pencurian senja. Berita itu diberi judul besar-besar di tempatkan pada halaman depan.

Yak sudahlah yang pasti untuk beberapa menit lamanya aku hanya menikmati senja di samping markas www. jasa-sablon.com. Sebuah markas tempatnya pembuatan kaos dan sablon manual. Hanya itu saja, dan aku sepertinya tak akan pernah bosan untuk kembali menatapnya meskipun tak akan pernah jelas kapan dan diman kejadian itu berlangsung.




Minggu, 31 Juli 2016

#Ngelancong, Pada Kereta Pagi Hari

Jala-Rasa,- Selain kopi hitam dan rokok masih terdapat yang membuat aku tak akan perenah lelah untuk menikmatinya, yakni kala mentari tenggalam dan terbit. Menikmatinya sambil sambil sruput kopi sungguh membuat hati terasa damai.

Bagi mereka yang telah jatuh cinta akan sekuat mungkin mendapatkannya. Mak tak mengherankan jika #Ngelancong merupakan hal yang diharuskan tanpa pedulikan jika setengah atau mungkin satu kali gaji habis hanya untuk mendapatkan peristiwa yang begitu sejekap.

Entalah padahal hanya dalam hitungan menit semunya akan berlalu begitu saja, mungkin  lantaran sekejab ini yang membuat takut akan kehilangan memontum dan ini yang ini juga membuat semuanya terasa begitu mahal.

Sama halnya dengan mereka, aku ikut tergila-gila. Tapi, harus diakui guna mendapatkannya apa lagi menyaksikan matahari tenggelam di pinggir pantai sangatlah langka. Jangankan itu, guna menyaksikan saat matahari terbit di sekitar kontrakan pun langka.

Saat ini, secara kebetulan mata-mata belum juga merasa lelah usai menghabiskan malam bersama seseorang.  Tepat perlahan matari mulai menampakan diri, aku sambil menenteng kamera sudah layaknya benar-benar seorang fotografer padahal nol besar. Bagiku yang penting asal jepret mencoba mengabidikannya.

Melihatnya, aku mencoba memaknai bahwa hidup layaknya kereta yang meluncur pada rel dan akan kembalii pada stasiun yang saat pertama kali menjejaki. Hidup adalah #Ngelancong yang terkadang seperti rutinitas semata dan selanjutnya tinggal bagaiaman  meresponnya, sebuah perjalanan yang meluncur begitu saja,

Oh iya, seandainya  Anda suka dengan foto ini , saya silakan untuk mengambil. Silakan ambil kalau perlu aku saja bahwa ini adalah kerya dirimu. Perkara bahwa ini adalah pelanggaran hak cipta atau apa pun itu, itu persoalan Anda sendiri. (Ayodia Kelana)


 

#Ngelancong, Pada Kereta Pagi Hari

Jala-Rasa,- Selain kopi hitam dan rokok masih terdapat yang membuat aku tak akan perenah lelah untuk menikmatinya, yakni kala mentari tenggalam dan terbit. Menikmatinya sambil sambil sruput kopi sungguh membuat hati terasa damai.

Bagi mereka yang telah jatuh cinta akan sekuat mungkin mendapatkannya. Mak tak mengherankan jika #Ngelancong merupakan hal yang diharuskan tanpa pedulikan jika setengah atau mungkin satu kali gaji habis hanya untuk mendapatkan peristiwa yang begitu sejekap.

Entalah padahal hanya dalam hitungan menit semunya akan berlalu begitu saja, mungkin  lantaran sekejab ini yang membuat takut akan kehilangan memontum dan ini yang ini juga membuat semuanya terasa begitu mahal.

Sama halnya dengan mereka, aku ikut tergila-gila. Tapi, harus diakui guna mendapatkannya apa lagi menyaksikan matahari tenggelam di pinggir pantai sangatlah langka. Jangankan itu, guna menyaksikan saat matahari terbit di sekitar kontrakan pun langka.

Saat ini, secara kebetulan mata-mata belum juga merasa lelah usai menghabiskan malam bersama seseorang.  Tepat perlahan matari mulai menampakan diri, aku sambil menenteng kamera sudah layaknya benar-benar seorang fotografer padahal nol besar. Bagiku yang penting asal jepret mencoba mengabidikannya.

Melihatnya, aku mencoba memaknai bahwa hidup layaknya kereta yang meluncur pada rel dan akan kembalii pada stasiun yang saat pertama kali menjejaki. Hidup adalah #Ngelancong yang terkadang seperti rutinitas semata dan selanjutnya tinggal bagaiaman  meresponnya, sebuah perjalanan yang meluncur begitu saja,

Oh iya, seandainya  Anda suka dengan foto ini , saya silakan untuk mengambil. Silakan ambil kalau perlu aku saja bahwa ini adalah kerya dirimu. Perkara bahwa ini adalah pelanggaran hak cipta atau apa pun itu, itu persoalan Anda sendiri. (Ayodia Kelana)


 

Jumat, 29 Juli 2016

#Ngelancong Kota Tua, Saat Rasa Penuh Warna

Jala Rasa,- Secara kebetulan aja mampir kawasan Kota Tua, Jakarta. Sebuah #Ngelancong kebetulan alias tanpa benar-benar niat akan kembali menepaki bangunan yang berdiri puluhan tahun lamanya.

Usia bangunan ini mungkin sama dengan bapaknya kakek. Entalah, aku tak terlalu berminat menelusiri sejarah kapan tepatnya bangungan ini berdiri.

 Saat rasa penuh warna dan garisan penuh warna terasa begitu memikau. Tak perlu ada alasan mengapa sebagaian orang menyukai pelangi. Begitu juga dengan aku yang selalu berlari ke sawah saat matahari mulai menampakan diri usai hujan.

Berdiam diri hanya untuk mengatamati setiap lengkungan warna lalu percaya begitu saja bahwa itu merupakan selendang bidadari yang sedang mandi. Wah cerita bisa merambat Jaka Tarub yang berhasil mencuri selandang putri. Wah seandainya saja, ya sudah lah bahwa faktnya sampai sekarang aku tak kunjung mendapatkan selandang putri.

Menyinggung soal keberagaman warna teringat ungkapan seorang guru, apa yang membuat pelangi menarik? Silakan pilih warna yang paling kamu suka yang menurut kamu unggul. Tapi, cukup hanya kamu, enggak ada paksaan soal pilihan warna begitu juga dengan yang lainnya. Maka biarkan orang lain memilih warna apa yang menurutnya menarik.

"Banyak orang yang menyebut, Indonesia begitu indah lantaran keberagaman, satu dengan yang lainnya hidup berdampingan tanpa ada paksaan. Karena itu, indonesia disebut dengan multikultur. Tapi sayang, saat pilihan warna yang dijadikan paling hingga dengan kekusaannya menghilangan warna-warna lainnya, apakah pelangi akan tetap menjadi menarik," katanya.

Sebuah ungkapan yang tak kunjung dimengerti dan hanya berbalas sebuah anggukan. Sebagaimana emngamini, pelangi adalah selandang bidadari yang dijadikan jalan dari khanyangan menuju tempat pemandian. (Ayodia Kelana)





Sabtu, 16 Juli 2016

Dan Pertemuan itu, Langsung Dilahap

Jala Rasa,- Sesuai dengan judulnya, ini bukan membahas perihal resep atau tata cara membuat makanan yang bernama kue cucur, jika Anda ingin mendapatkan resep silakan cari di blog lainnya atau bisa juga membeli buku resep.

Ini perihal pertemuan saya dengan kue cucur setelah sekian lama. Maklum sebagai anak rantau yang tinggil di pinggiran kota Jakarta ternyata agak susah mendapatkan makanan idola sewaktu di kampung halaman. Mungkin saja kue cucur ini masih banyak di pasar-pasar tradisional, misalnya Ciputat.

Sebuah pertemuan tanpa disangka-sangka ini bermula dari #Ngelancong usia Magrib menuju  pinggiran Depok yang berbatas dengan Bogor, yakni Bojong. Dan kembali pada cerita lama, yakni sudah menjadi kebiasaan hampir setiap perjalanan menjumpai dengan kata menyasar.

Kejadian serupa terulang kembali, ketimbang bingung maka keputusan saja singgah di sebuah warung kopi. Ternyata dari sana pertemuan terjadi dan tanpa berpikir panjang langsung aja kulahap makanan manis ini panas-panas apa lagi sesuana gerimis.

Jumat, 15 Juli 2016

Iseng #Ngelancong Kota Tua



Jala Rasa,- Mungkin Anda juga pernah merasakan apa yang saya rasakan, yakni saat hari terasa menjemukan dan entah mau ngapain. Utama saya yang hanya seorang pengaguran. Waktu pun terasa begitu lama berlalu hampir sama saat menanti seseorang datang.

Yak sudah, dari pada enggak jelas mau ngapain maka diputuskan aja pergi stasiun Pondok Ranji turun di Tanah Abang lalu ke Manggarai dan pada akhirnya naik kerata KRL ke Kota Tua. Woy ternyata cukup panjang juga untuk sampai Kota Tua dari Ciputat sampai-sampai naik-turun kereta sampai tiga kali.

Yups, kali ini sasaran #Ngelancong saya pada Kota Tua. Soal cerita kota yang dipadati dengan bangunan jaman dahulu sudah terlalu banyak ngebas. Terlalu banyak blogger yang sudah menjelaskan secara rinci sampai nama-nama musium lengkap pada masa siapa lengkap terlampir.

Dan saya tak punya kemampun untuk mengulasnya apalagi sampai menulis pernjalanan sampai benar-benar rinci. Saya hanya iseng-iseng ngabisin waktu dan bergaya seolah Fotografer padahal cuma tukang foto amatir.

Ini salah satu hasil jepretan di kota tua yang dipenuhi orang-orang mencari hiburan. Kota Tua menjadi wisata aternatif masyarakat sekitar Jakarta, Tangerang dan mungkin ada dari luar JABODETABEK, itu mungkin saja.

Pasti wisata murah tanpa harus merogoh kocek sekian ratusan bahkan bisa mendakati jutaan. Banyangkan saja dari dari Ciputat yang sudah beda profinsi dari Jakarta hanya menghabiskan uang enggak lebih dari Rp 20.000,- bahan mendapat kembalian asal mau antri menukar tiket yang dipegang.

Udah langsung aja dan silakan simak kalau perlu kasih komentar yang jelas mengenai aktivitas saya ini.






Kamis, 14 Juli 2016

#Ngelancong Cimanggu, Telusuri Jejak Lalu

jala rasa, ngelancong
Jala Rasa,- #Ngelancong ke Cimanggu. Salah satu kecamatan yang berada di Cilacap.

Dari segi sendiri nama sendiri yang berawalan Ci yang berasal dari suku kata 'Cai' yang dalam bahasa Sunda artinya 'air'.

Untuk itu banyak sangkaan yang menyebut daerah tersebut terdaftar dalam provinsi Jawa Barat apalagi terdapat beberapa daerah yang mempunyai nama serupa, misalnya Cimanggu di Bogor atau Cimanggu kawasan Ciwidey atau mungkin masih terdapat daerah yang dengan nama yang serupa.

Sekilas tentang Cimanggu bisa jadi penamaan tersebut  orang yang sama, yakni Prabu Bujangga Manik, seorang pendeta Hindu Sunda.  Dugaan tersebut diperkuat dengan naskah kuno  primer Bujangga Manik (yang menceriterakan perjalanan Prabu Bujangga Manik, seorang pendeta Hindu Sunda yang mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di pulau Jawa dan Bali pada awal abad ke-16), yang saat ini disimpan pada Perpustakaan Boedlian, Oxford University, Inggris sejak tahun 1627, batas Kerajaan Sunda di sebelah timur adalah sungai Cipamali (yang saat ini sering disebut sebagai kali Brebes) dan sungai Ciserayu (yang saat ini disebut Kali Serayu) di Provinsi Jawa Tengah.

Maka tak mengherankan jika sampai detik ini, warga Cimanggu mengenakan bahasa Sunda dan sebagian lagi mengenakan bahasa jawa. Memang secara pengucapan dan kosakata bahasa Sunda yang dikenakan warga Cimanggu cukup berbeda dengan bahasa Sunda di porvinsi Jawa Barat hal serupa juga berlaku untuk baahasa Jawa.

Lalu adakah yang lebih menarik dari Cimanggu itu sendiri.  Bagi Anda yang tak pernah bersentuhan langsung mungkin tak ada yang menarik dari desa ini. Sudah benar itu, memang desa ini tak mempunyai lokasi yang begitu eksotits sehingga mendatangkan para wisatawan.

Namun, secara khusus  Cimanggu tetaplah sebuah desa yang penuh cerita. Cerita kembali hadir, bagaimana saban sore menjadi ajang memancing dan tempat mandi di balik tanggul.

Sambil menikmati senja.  Akh  Seandainya saja. Yups, seandainya Doraemon tak hanya ada dalam serial TV menemani hari libur sekolah mungkin cerita bakal berbeda. Saya akan dengan mudah mengulang kembali bukanya hanya menelusuri jejak-jejak lalu.

Dan bantuan  pemilik kantung ajaib, maka sangat mungkin kisah #Ngelancong ini akan menjadi hal lain, paling tidak dengan pintu ajaib atau lorong waktu saya akan lebih lelusa kapan saja dan hendak kemana saja, minimal saya menelusuri tak hanya dalam satu tahun sekali.

Sudahlah lupakan soal Doraemon. Yang pasti, kali ini saya begitu menikmati senja bersama segala kenangan lalu.


Selasa, 14 Juni 2016

WOW !!! Raja Ampat

JalaRasa,- Ngelancong Raja Ampat!!!! Sudah pasti mau banget. Mendengarnya saja sudah bikin gimana, membanyangkan ngopi sambil menikmati matahari tenggelam.

Seandainya aja ada yang bersedia mengajak. Sudah pasti sulit ditolak.

Gimana juga bisa nolak, dia itu sudah terlalu menggoda, godaan kian bertambah dari foto presiden Jokowi duduk sarungan dengan latar matahari dan yang berikutnya adalah cerita klien Boleh Kaosan soal Raja Ampat dengan menunjukan hasil jepretan dia.

Jika sudah demikian, lalu  bagaimana bisa melepaskan diri. Dia itu sudah  seperti  bidadari yang selalu saja melambaikan tangan dan ia tak akan membirkan aku berpaling pada lain hati. Yups, keindahan Raja Ampat sudah kaya bidadari yang selalu bermain dalam lamunanku.

Saat ini, aku kembali melihat catatan wisata mana aja yang bakal dikunjungi. Dalam deretan nama itu tertulis besar kali, RAJA AMPAT.  Sampai sekarang Raja Ampat masih menjadi catatan dalam daftar  lokasi mana aja yang bakal dikunjungi. Ingat bakal dikunjungi, tapi entah kapan?

Khusus untuk Raja Ampat sendiri, aku begitu yakin bakal kesana apa lagi dibantu dengan seseorang yang terus aja mendorong untuk mengikuti lambaian bidadari. hehehe, kuda.




Senin, 23 Mei 2016

Jejak Dingin Ranukumbolo

Pagi Ranukumbolo, hawa dingin nan sunyi yang kau tawarkan menembus dinding pengamanku. Menusuk tulang membuat ku tak bisa lagi menolak. Iya,  di bawah cahaya purnama aku pun bersetubuh dengan dingin.

Dan pada akhirnya menyisakan kerinduan. Entah kapan kerinduan akan terjawab tuntas? Semoga saja, aku dapat  kembali menelusuri jejak yang terpendam kabut.  Kemudian kembali bersetubuh dengan dingin  dingin Ranukumbolo. Saat matahari terbit tepat di puncak negeri para dewa. Mahameru