Tampilkan postingan dengan label #Kopi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #Kopi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 April 2025

Ngeblong, Kopi, Dan Gaya Berpakaian Street Style



Ngeblong dan kopi, dua hal yang bagi saya sesuatu sulit dipisahkan. Yups, aktivitas ngopi akan selalu ikut serta termasuk saat ngebolang. Pada saat rehat atau nongkorong, maka sudah sangat cocok untuk ngopi, setidaknya sebagai pelepas lelas sebelum kembali berlanjut melakukan aktivitas ngebolang.

Dan kamu pun sudah paham benar, bukan. Bahwa kopi tak hanya sekadar suguhan air hitam semata. Tapi, lebih dari itu. Bahkan kerap kali kita sengaja melakukan perjalanan hanya untuk memburu minuman yang bernama kopi. 

 Iya, kita sengaja ngebolang hanya untuk mendapatkan secangkir kopi. Dan pada saat tesuguhkan secangkir kopi, kamu bebas bercerita apa saja. . aku dan kamu pada kopi ditemukan sebuah kebebasan, kita pun merasa merdeka. Maka wajar saja ada penggalan lirik yang "ngobrol di warung kopi,' Warkop DKI. 

Gaya Berpakaian Street Style

Adakah hal yang saling berkaitan antara ngebolang, kopi dan gaya berpakaian ala street style. Mungkin kesannya terlalu dipaksakan, pada pada kenyataan memang saling berhubungan. Setidaknya, bagaimana obrolan berjalan intim jika model pakaian kamu pun berbeda, kamu terlalu nampak serius dengan tampilan kelas atas. 

Tentunya, akan terasa lebih nyaman dan romantis bukan. Coba lihat sekeliling, pada kedai kopi yang berada di pinggiran Jakarta ini. Bagaimana anak muda berpakaian. Sebuah pemandangan yang bisa kamu tiru atau setidaknya menjadi inspirasi pakaian gaya street style,

Kita bukan bagian dari budaya pop, celetoh mu. Lantas kita bagian dari mana, kita juga bukan dari planet mars yang ada di tengah-tengah anak muda. 

Atau kita sedang menjadi aliasn di sebuah kedai ini. 
 
Baiklah, kita sekarang membas tentang budaya pop, sebuah gaya berpakaian ala street style yang dipandang seabgai budaya pop, itu versimu. 

1. kaos dipadukan celana levis

apakah yang kamu kenakan, kamu tidak sedang mengenakan jas atau model gaun layaknya ke pesta. Bukanya pakaian yang kamu kenakan adalah kaos dengan bawahan levis. Yups, model ini kasual yamg samgat cocok untuk kita pakai untuk ngeblong atau memburu kopi. 

2. Tank Top

model pakaain atasan apa yang sedang dipakai, tank top saat nongkrong setelah melakukan perajalanan ke sana-kemari. ngebolang ini. 

 

Selasa, 01 April 2025

Secangkir Kopi, Kamu Bebas Bercerita Apa Saja

 Secangkir kopi, kamu bebas bercerita apa saja. Tapi, tak kunjung juga. Ia pun hanya tersenyum lalu terdiam kembali. Mungkin masih perlu waktu. Tunggu saja sejenak, lalu kita lihat saja. 




Ada Cerita pada Secangkir #Kopi

Kita telah menyadari, bahwa selalu saja ada cerita pada secangkir kopi. Lalu untuk apa juga dipendam. Dan sesungguhnya, aku menanti ada cerita apa lagi yang bakal tersaji. Sama seperti waktu itu, saat kita sama-sama berada dalam satu ruang, Pada Kedai Kopi Itu, Cerita Baru Tersaji

Atau cerita masih sama saja, cerita bagimana kopi bercerita tentang apa yang tengah dirasakan. Terkadang kamu pun bicara panjang kali lebar sampai-sampai cerita mu terasa begitu absurd. 

Bagimana mungkin orang sampai begitu gila terhadap kopi, sampai kopi dipaksa untuk menjelaskan tentang dirinya sendiri. 

Iya, bagaimana mungkin kopi mempunyai filosofinya sendiri. Ada juga kopi layaknya makanan dan orang-orang yang mengklaim dirinya sebagai pakar tentang kopi membuat daftar cara menyajikan. 

Ada kopi ekpreso, kopi ala vitnam, kopi ala dan ala lainnya. Sungguh tak adil rasanya, tapi itulah kopi. Ia berkali-kali coba khianatin, tapi kopi tetap menawarkan dirinya sendiri. 


#JoinKopi: Satu Cangkir Untuk Bersama


Pembeda hanyalah untuk kamu, aku sengaja menyedaikan secara tersendiri. Bukan lagi secangkir untuk berdua. Hal ini sangaj aku lakukan, bukan lantaran kondisi keuangkan ku sedang bagus-bagusnya. 


Tapi, aku memahami cerita kita telah berbeda jauh, jalan yang telah kamu tentukan bukan lagi tentang mimpi kita. Yang mana kita mencoba mengukir cerita bersama untuk mencapia sebuah tujuan yang sama. 


Untuk itu pula, aku sengaja menyediak secara khusus. Iya, ini Untuk Secangkir #Kopi yang sengaja kupesan untuk kamu. 


Dan sungguh aku menanti cerita baru dari mu, sebuah cerita tentang perjalanan yang mungkin terlalu banyak rasa akan tersaji. Cerita bukan hanya tentang hitam atau putih saja. Tapi, ada banyak cerita yang dari secangkir kopi ini. 


#Ngopi Tubruk Pinggiran Jakarta


Tak perlu khawatir kawan, sama seperti dulu kala saat kita menikmati kopi tubruk di pinggiran Jakarta. Aku masih paham benar, kamu adalah penikmati sejati kopi tubruk. Bagi kamu, kopi tubruk mempunyai cerita unik tersendiri, di balik warna hitam yang kental terdapat sisi unik dari rasa kopi itu sendiri. 


Sema seperti di kedai itu, pembeda kita tidak sedang menikmati secangkir kopi secara bersama-sama. 


Dan kamu masih saja membisu. Terdengar lirik 


"Setiap saat setiap waktu

Kamu selalu menemani aku

Meskipun hitam tapi banyak yang suka

Bersama teman teman ku menikmatimu


Hu la la la kopimu kopiku

Hu la la la join join kopi

Hu la la la arti sahabat

Hu la la la tak ternilai harganya

sebuah lirik yang sudah tak asing, jika tak salah itu lirik dari lagunya band Blackout berjudul Join Kopi


#Kopi, Rasa Terpendam

sebuah rasa yang mungkin sulit kamu kisahkan, sama halnya memahami rasa dari kopi tubruk itu sendiri. Bagi sebagian orang, apa yang dapat dinikmati dari kopi tubruk tanpa gula, hanya sekadar rasa pahit saja. 


Sebuah pandangan jauh berbeda dengan dirimu. Bagi kamu, kopi tubruk tanpa gula tak hanya tentang rasa pahit semata. Kamu pun panjang lebar mulai menjelaskanya, sampai pada filosofi yang terkesan dibuat-buat. 


Kamu pun kerap kali berceloteh, tak bisa dijelaskan secara kata-kata. Kecuali kamu mulai jatuh pada cinta pada kopi itu sendiri. 


Minum #Kopi Itu Perlu


Kamu pun mulai mencoba merayu dengan rayuan begitu kuat, sehingga sangat sulit untuk berkata tidak. Itulah mengapa kamu perlu minum kopi tubruk tanpa gula, sehingga kamu pun bisa memahami cerita untuk pada setiap tetasan kopi yang secara perlhan mulai mengusai mulut. 



#Kopi, Silakan Saja


Setalah itu, kamu pun mulai mempersilkan untuk dapat menceritakan apa yang ada dalam secangkir kopi tuburuk hitam dan pekat. Nikmati saja, tak perlu dipaksakan juga. Jika tak sanggup untuk menikmatinya, mungkin kamu lebih menyukai sedikit gula atau creem, atau gaya racikan kopi lainnya. 


Bukan Sedang Berbagi #Kopi

Atau hari ini kamu sedang tak ingin berbagi cerita. Sebab cerita yang kamu miliki untuk untuk dibagi-bagi. Bagi kamu, nasib yang sedang dijalani adalah murni milikmu untuk untuk dibagi-bagi. 

Selasa, 28 Maret 2017

Sruput Kopi Kintamani di Seniman Coffee Studio

Kopi hitam,-Bagi pecinta kopi menikmatinya maka sudah menjadi keharusan mensruputnya tanpa mengenal waktu, tempat dan lokasi.  Begitu juga dengan kami yang secara kebetulan tengah melancong ke Ubud, Bali.

Kami layaknya seorang pemburu yang tengah mencari mangsa berupa kopi khas. Dan pada akhirnya pilihan jatuh pada Seniman Coffee Studio, yakni salah satu kedai kopi yang terletak di jalan raya Ubud, Bali.

Sore hari tepatnya saat hujan belum benar-benar reda, kami nekat meluncur. Setibanya, kedai kopi ini telah disesaki sejumlah wisatawan asing.  Meski demikian, kehadiran kami tetap mendapat sambutan ramah dan mempersilakan untuk memilih tempat duduk.

Kami memilih tempat  yang menghadap jalan raya memang. Alasan utama ialah tempat terasa lebih nikmat jika menghisap rokok dan yang tak kalah penting terlihat tak terlalu sumpek dengan padatnya pengujung. Dengan begitu akan terasa lebih nyaman apalagi dengan tempat duduk yang sebenarnya sama saja dengan tempat duduk pada umumnya terbuat dari plastik cuma bagian kaki bangku terapat lengkungan kayu jadi mirip kursi goyang. Jadi ngopi kian santai dengan goyangan kursi.

Seorang datang dengan membawakan secarik kertas berupa catatan menu. Ia menjelaskan beragam jenis menu yang dapat dinikmati termasuk kopi. Menurunya, semua kopi yang ada disini merupakan hasil racikan sendiri dari biji kopi, proses sangrai hingga penggilingan.

Untuk proses sanggrai dan penggilingan tepat di hadapan hanya terhalang jalan raya.  Kami pun saling berhadapan dengan proses dari biji kopi hingga menjadi bubuk yang siap diracik. Ia pun menawarkan jika ingin melihat langsung bagaimana biji kopi diolah.

Penjelasan secara rinci dan hampir setiap pertayaan dijawab penuh senyuman menambah plus kedai kopi ini. Ia menambahkan,  biji kopi yang siap disajikan terdapat beberapa macam varian dengan tingkat yang berbeda dan biasanya untuk orang Indonesia lebih menyukai premium dengan alasan lebih pahit.

Bagi saya secara pribadi jika mengunjungi sebuah wilayah maka pilihan utama adalah kopi khas daerah tersebut. Itulah alasan mengapa saya memilih kopi hitam dengan diracik tubruk khas Bali, yakni Kintamani.

Sementara itu,ia memilih kopi Latte dan saya sendiri sebagaimana yang sudah-sudah, pilihan jatuh pada kopi hitam dengan racikan tubruk. 

Waktu terasa berjalan begitu lambat mungkin sudah tak sabar lagi untuk sruput kopi. Dalam penantian yang cukup panjang bagi orang yang sudah tak sabar ini, saya mencoba lebih memilih untuk mengamati sekitar tempat ini.

Seniman COffe Studio bisa dikatakan cukup unik, dari dua sepeda tua yang menggantung tepat di pintu masuk dan tak ketinggalan adalah cangkir yang seperti terbuat dari botol minuman yang .

Akhirnya tiba juga, secangkir kopi hitam kintamani dan kopi Latte. Saya yang sudah tak sabar menikmatnya pun langsung mencium kepulan asap.

Sruputan terus berlanjut, kopi ini terasa begitu sayang untuk ditinggilkan begitu saja.

Bagaimana rasa  kopi Kintamani dengan racikan para barista di Seniman Coffee Studio silakan langsung saja dirasakan apalagi jika teman-teman tengah berkunjung ke Ubud, Bali, Indonesia

Untuk lokasinya sangat mudah dijangkau,


Seniman Coffee Studio

Jalan Sriwedari No. 5 Ubud, Bali

80581 Indonesia

Telepon 081236076640

Sabtu, 28 Januari 2017

Pada Kedai Kopi Itu, Cerita Baru Tersaji

Dan kita sengaja memilih tempat ini, iya pada sebuah kedai kopi yang akan membawa pada sebuah ketukan-ketukan terkadang terasa lebih romantis atau sebaliknya ketukkan yang meluluhlantahkan rasa, pasti kedai kopi bagi selalu mempunyai cerita yang begitu unik seunik kopi yang tersaji.

Bukankah begitu, aku dan kamu selalu mencari alasan yang tepat untuk mengumbar rasa.

Tak adalagi kepulan asap menghantarkan aroma, cairan hitam dingin yang pada mulanya  terasa begitu menggubu seakan ingin cepatlah apalagi yang akan kau tunggu?

Lalu tanpa aba-aba mata menatap mata.    

Apalagi yang bakal diungkap saat tetesan kopi menyentuh ujung lidah? Kata-kata bisu dan aku tak cukup lagi melahirkan sebongkah bualan, kopi ini dingin.

Yak sudahlah kita nikmati saja mau dibilang apalagi memang sudah begitu adanya, waktu menyisakan kenangan  dan mengantarkan cerita baru yang bisa saja menjadi unik dan cerita indah kelak.

Pada kedai itu, kopi ini dingin dan lidah masih saja kelu lalu mata menatap mata.

Kopi ini dingin, maukah kamu singgah pada kedai kopi selanjutnya dan membiarkan cerita unik lahir. Sebuah cerita yang penuh harap pada sebuah waktu yang mana aku dan kamu tak lagi rasa malu menatap penuh gelora.

Dan sebuah cerita layaknya dongeng pengantar tidur anak-anak.

 


 

Minggu, 16 Oktober 2016

#Ngopi Tubruk Pinggiran Jakarta

Entah sejak kapan saya mulai mengamini sebuah ungkapan, biarlah rasa yang mengukapkan dengan sendirinya, banyak rasa yang tak bisa diungkapakan dengan kata-kata. Entalah, bisa jadi saya terlalu miskin dengan kata-kata itu sendiri.

Baiklah, saya coba untuk merenung untuk dapat menjelaskan kata apa yang tepat pada secangkir kopi tubruk, pahit bercampur asam atau sebaliknya? Dalam perkara ini, saya lebih banyak rasa khawatir apa yang saya ungkapkan tak benar-benar sesuai, sebagaimana keliruan dalam hal penampakan. Mungkin kalian bisa membantu untuk dapat menjelaskanya.

Sajian kopi tubruk tak ada keindahan malah terkesan kasar dengan biji kopi yang terkadang menyelip pada celah deretan gigi. Namun dibalik itu, kopi tubruk adalah sebuah kemurnian, sebuah wajah yang menampilkan apa adanya. Kurang lebih begitulah saya memahaminya dan sebab itu, saya lebih suka kopi tubruk ketimbang dengan .

Dua cangkir kopi tubruk terhidang, kopi tubruk Blue Batak dan Gayo. Pilihan saya pada kopi  berasal dari Medan.

Cerita perihal ngopi tubruk di kedai kopi Papacul #lapakngopipapacul, sebuah kedai kopi mungil dengan daya tampung kurang lebih 10 orang. Hampir semua tempat duduk serta meja terbuat dari papan.  

Malam Minggu, saya sengaja singgah di kediaman Saeful Alam dan seperti biasa kopi hitam sebagai penawar dari kehadiran saya. Sruput cairan hitam, " Kopi pabrikan, sekitar ada enggak kedai kopi yang bukan kopi prabikan," cetus saya.

Dan dia hanya menjawab enggak tahu, sudah nikmati saja kopi yang ada, lumayan.

Pada akhirnya, kami menelusuri jalan Ulujami, Pesanggrahan, ujung selatan Jakarta dengan mengendarai sepeda motor. Sepanjang perjalanan tak jarang dijumpai muda-mudi, akh malam Minggu malah bersama seorang yang mengatakan dirinya sebagai tukang sablon manual khususnya sablon pada media kaos.

Ujung dari jalan ialah sebuah lintasan dari Cipulir dan Ciledug, suasana kian macet mengingat jalan layang yang belum siap dilintasi, entah kapan? Hanya mengikuti naluri saya belok kiri ke arah Ciledug.

Kurang lebih berjarak 4 kilo, saya menemukan kedai kopi mini, tepat pinggir jalan raya. Jika melihat google maps, lokasinya masuk kawasan Petukangan, Jakarta Selatan.






Minggu, 11 September 2016

Ada Cerita pada Secangkir #Kopi

Jala Rasa, #kopi, minuman yang begitu sederhana, sifatnya yang mudah berbaur tanpa kehilangan cita rasa membuat minuman yang satu ini begitu disukai banyak kalangan. Misalnya, bagi yang tak terlalu menyukai kopi hitam pekat, maka pilihanya adalah dicampur susu,

Hal demikian tergantung selera maupun bagaimana orang meracik biji kopi sehingga dapat dinikmati setiap saat. Terlepas dari itu semuanya, kopi tak hanya sebagai penghangat suasana saat  santai bersama dengan teman-teman, tapi dari mengalir cerita-cerita yang mengalir begitu renyah.

Bisa jadi atau pada mulanya hanya sebuah kebiasaan, yakni minum kopi setiap saat bersama teman-teman. Pada akhirnya mengalir menjadi sebuah lirik, 

"Setiap saat setiap waktu
Kamu selalu menemani aku
Meskipun hitam tapi banyak yang suka
Bersama teman teman ku menikmatimu

Hu la la la kopimu kopiku
Hu la la la join join kopi
Hu la la la arti sahabat
Hu la la la tak ternilai harganya

......"

Dua pragraf lirik lagu yang dibawakan grub band Blackout berjudul Join Kopi

Kopi menjadi penghangat suasana dan kala penting kerap ada cerita yang menarik di balik hidangan sederhana ini. 

Yok join kopi sambil nikmati lagunya,,



  




Senin, 29 Agustus 2016

Ngelancong, Main Hujan-hujanan

Jalarasa,- #Ngelancong atau berpergian menyaksikan tempat-tempat indah, sebuah tempa yang dapat mengugah rasa, terpana pada pesona alam. Wah, mau banget apa lagi untuk sebuah kawasan yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

Namun apalah daya, pada kenyataan banyak kawasan tersebut belum juga terjangkau. Entalah, mungkin masih angan-angan semata sambil berharap keajaiban bakal datang. hehehe.

Ketimbang ngelamun dan keajabain tak kunjung datang, aku putuskan aja mengunjungi teman, itung-itung sekalian minum #kopi hitam gratis. Bukanya  ini sama aja, yang membedakan adalah kawasan yang bakal dikunjungi dan utamanya adalah dana.

Ngelancong pun dimulai, tak lama berselang hidangan kapi panas tela siap disruput. Sambil menikmatnya, rinai hujan mulai mengguyur kawasan Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Anak-anak mulai berkumpul di pinggir rel kereta api, mereka seakan tela merelakan badanya diguyur hujan dan menanggung resiko terbesar, yakni  omelan dari sang ibu.

Peristiwa ternyata membanwa pada kampung halaman, saat itu hujan adalah kejadian yang selalu menyenangkan untuk bermain bola. Dan mungkin kejadian bakal sama dengan anak-anak yang tengah hujan-hujan, saat tiba di rumah maka tamparan bakal mendarat di paha. Sambil menangis, ibu galak. heehe

Foto yang di atas adalah salah satu foto yang saya berhasil dijepret. Untuk foto-foto lainnya, lain kali aja

Sabtu, 27 Agustus 2016

Lagi dan Lagi Tentang Senja

Jala-Rasa,- Berbicara tentangnya tak cukup kata untuk dapat mendeskripsikannya. Mungkin sudah tepat jika ia hanya untuk dinikmati apalagi sambil sruput #kopi. Oh, sungguh terasa damai. Siapa coba yang tak akan terpikat dengan pancarannya?

Setahu saya sepanjang #Ngelancong, sudah banyak orang yang  tergila-gila termasuk sastrawan sekaliber Seno Gumira Ajidarma nekat mencuri senja untuk pacarnya. Terbanyang bukan, bagaimana daya pikat senja.

Yups, semuanya tentang senja. Aku untuk kesekian kali terpengarah menatapnya. Sial, ia terlalu cepat berlalu begitu saja. Bisa jadi ini yang membuat sebagian orang stres sehingga ia kembali mencarinya.

Pada senja ini, aku kembali mencoba mengabadikannya. Sengaja hal ini dilakukanya bukan lantaran esok tak ada waktu untuk menikmatinya, tapi sebagai bentuk antisipasi  jika pada suatu hari ada yang mencurinya dan masyarakat kembali dihebohkan dengan berita pencurian senja. Berita itu diberi judul besar-besar di tempatkan pada halaman depan.

Yak sudahlah yang pasti untuk beberapa menit lamanya aku hanya menikmati senja di samping markas www. jasa-sablon.com. Sebuah markas tempatnya pembuatan kaos dan sablon manual. Hanya itu saja, dan aku sepertinya tak akan pernah bosan untuk kembali menatapnya meskipun tak akan pernah jelas kapan dan diman kejadian itu berlangsung.




Selasa, 02 Agustus 2016

Bukan Sedang Berbagi #Kopi

"bukan maksudku mau berbagi nasib, nasib adalah kesunyian masing-masing,"
Petikan Puisi Chairil Anwar 

Nasib apa yang hendak kau bagi dan kepada siapa ingin kau berikan? Dan aku tidak sedang mencoba menafsirkan ulang atau berlagak seolah kritikus sastra saja. 

Jika benar demikian tentunya nasib tak seperti sedang menikmati secangkir kopi berdua alias join kopi atau sedikit mengenang masa lalu perihal sebatang rokok untuk dihisap ramai-ramai. Mungkin memang sudah tak bisa disangkal lagi, nasib adalah kepemilikan masing-masing.

Menesuliri lorong kesendirian usai menghadiri pesta, layaknya kisah yang diceritakan -Pramoedya Ananta Toer  pada sebuah roman

 "Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang... seperti dunia dalam pasarmalam. Seorang-seorang mereka datang... dan pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana"
 -Pramoedya Ananta Toer  

Ya sudahlah mau dikata apa lagi. Yang pasti saat ini, aku tengah menikmati secangkir kopi sambil berharap ada seorang yang bersedia menemani malamku. Berharap penuh harap setidaknya berbagi kopi.

Kemudian aku menghampiri dan yang terlihat hanya pantulan dari wajahku penuh goresan. Mungkin cerimin ini terlalu kusam tak ada wajah keceriaan.






Jumat, 18 September 2015

Untuk Secangkir #Kopi

Iya, aku menikmati ceritanya walau banyak hal yang tak dimengerti
Dan bagiku justru itu hal yang menarik

Seandainya semuanya sangat mudah dipahami.....
Tentunya tak banyak #kopi yang  tersaji


Sabtu, 05 September 2015

#Kopi, Rasa Terpendam




Mungkin saja dirimu masih menyimpan deretan pertanyaan
Namun, apa hendak dicari pada pekatnya secangkir #kopi

Memang sudah begitu adanya
Kopi tetaplah kopi sekeras apa pun dirimu meracik

Nikmati saja, nanti juga bakal terungkap dengan sendirnya
Ada rasa apa dibalik pekat serta pahit #kopi terdapat rasa sulit diungkapkan.
.


Minggu, 26 Juli 2015

#Kopi, Silakan Saja

Bangku ini sengaja untukmu
Giliranmu, sudikah engkau relakan waktu sejenak saja
Menanggalkan setiap helai beban
dan kita nikmati hangatnya bercumbu bersama secangkir #kopi

Tak mengapa,jika aroma kopi ini tak cukup menggoda
dan kakimu kembali melangkah





Minggu, 07 Juni 2015

Minum #Kopi Itu Perlu


Malang benar, untuk menikmati secangkir kopi dihantui rasa takut. Mari sejenak lupakan segala hal atau kalau perlu buang jauh-jauh hal yang membelugu terkait dampak buruk akibat minum #kopi. Lantas bagaimana caranya agar terbebas dari jerat-jerat yang membelengu rasa takut, maka ada silakan menyimak secara seksama apa yang membuat perlu minum kopi.

Setidaknya terdapat sejumlah alasan mengapa minum kopi, selain memang pantas dinikmati dan juga  penghangatkan suasana kali nongkor. Kopi juga ternyata mempunyai kandungan yang bermanfaat bagi tubuh. Menurut data yang dihimpun dari beragam sumber disebutkan manfaat sruput cangkir kopi, antara lain

Dilansri dari foxnews.com, hasil dari penelitian dari National Cancer Institute,  minum kopi mampu menjaga tubuh dari serangan sel kanker melanoma di kulit. Peneliti menemukan bahwa mereka yang minum kopi memiliki kemungkinan sekitar 20 persen lebih rendah terserang kanker kulit sel melanoma daripada mereka yang tidak minum kopi.

Kanker kulit melanoma sendiri merupakan kanker kulit paling berbahaya dan sulit disembuhkan. Pertumbuhan sel kanker kulit melanoma lebih cepat dan lebih ganas, bukan hanya merusak kulit namun juga DNA. Peneliti menemukan efek baik mencegah kanker kulit ini hanya pada kopi berkafein, jadi untuk kopi decafeinated atau yang sudah tidak memiliki kafein, justru tidak memberi efek apa pun.

Manfaat lain dari kopi, minum kopi akan membantu meningkatkan hormon kortisol. Hormon ini berperan dalam kewaspadaan dan konsentrasi tubuh.

Kurang lebih begitu alasan kenapa perlu minum kopi, Selain alasan yang telah dipaparkan, minum kopi juga masih mempunyai manfaat lainnya. Untuk mengetahui apa saja manfaatnya, silakan cari tahu.






Minggu, 13 Juli 2014

#Kopi, Si Burung Mungil Penuh Sandiwara

#kopi, twitterSengaja kuracik kembali #kopi hitam, jika racikan ini berhasil maka ini cangkir yang ketiga. Iya, hari-hari ini aku lebih banyak menghabiskan waktu. Kopi menjadi rutinitas yang sulit dihindari, meminjam ungkapan almahrum Mbah Surip tentang kopi.

Sambil tertawa hahahaha,  ia mengatakan kurangi tidur dan perbanyak minum kopi hitam.  Apa yang dilakukan, bisa jadi lantaran Mbah Surip mulai merasakan stres tingkat tinggi saat popularitas terus menanjak, maka tak ada cara lain selain dengan sruput kopi.

Kopi hitam sebagai pereda rasa lelah sama halnya dengan vokalis grub musik Nirvana, Kurt Cobain yang melampiaskan melalui obat-obatan. Baiklah kita tidak sedang berdebat mengenai  hali ini. Jelasnya, saat sebagian raykaty Indonesia tengah dilanda keresahan usai pencoblosan Pilpres pada 9 Juli 2014.  Terlampau banyak permainan.

Bisa jadi tujuan adalah menyerang perasaan hingga mengalami kelelahan dan pada akhrinya pasrah. Bagaimana pun pada hari-hari ini menjadi pusat perhatian. Setiap orang mengundang dengan gempuran kosa kata yang terus mengerutkan kening. Lihat saja, bagaimana kata-kata yang dilontarkan orang yang menilai dirinya paling moralis berbicara tentang A dua detik kemudian b lalu C dan Z selanjut kembali ke A.

Pengagum murahan, picisan, mana mungkin jika bukan karena jabatan. Ada yang berani berturuh untuk ini, jika mereka para moralis dengan dalil-dalil agama tak lain bertujuan untuk sebuah jabatan. Jika tidak kenapa mereka rela menyediakan waktu untuk berkicau hanya untuk menuliskan kata-kata ‘kafir’ dan mengagap pilihanya adalah orang paling ‘suci’.

Lagi kuracik kopi, menatap twitter, burung mungil berwarna biru.  Menulusri burung ini berkucau, burung beo dapat dikalahkan dengan mudah. Akun-akun siap menghardik siapa saja yang dianggap lawanl, kalau perlu sampai sumpah serapah.

Oke, silakan hardik sesuka hatimu, silakan anggap dirimu serta kawan-kawanmu adalah orang pantas masuk surga, sendangkan lawan-lawamu hanya pantas menghuni neraka jahanam.


Selasa, 08 Juli 2014

#Kopi Jelang Pilpres 2014

Kopi hitam mendingin, berapa jam lamanya ia begitu setia menemani kesendiranku. Saat ini, aku masih butuh kopi hitam. Iya, begitu ada dan aku tak akan mencari-cara penyebab apa yang membuat aku membutuhkannya. Mungkin salah satu alasan yang tepat, yakni kopi hitam ini rela dijadikan lampiasan rasaku.

Berbicara rasa apa yang tengah kurasakan saat ini untuk lebih tepatnya jelang pencoblosan pilpres 2014.  Ada rasa marah, haru, sedih, dan memuakkan. Rasa tersebut saling bertempur  untuk menguasai diriku dan selanjutnya tinggal ditunggu, apakah akan mengumbar kemarahan secara membabi buta, atau hanya tertunduk lesu dipojok kamar 3x4 M.

Apakah aku pesimis? Sejujurnya aku menjawab iya, aku pesimis dengan jualan dalil-dalil suci hanya untuk memuluskan seorang pada jalur kekuasaan. Aku pesimis menyaksikan seorang berhak untuk menilai keimanan, maka tak heran kata sesat atau kafi begitu mudah diungkapkan. Aku sangat pesimis hal-hal tersebut bakal terhapus di Indonesia selama para alim ulama, intelektual bercampur dalam lingkaran kekuasaan.

Apakah mereka tak perlu terlibat dalam politik? Naif kalau aku menjawab dengan kata iya bahwa mereka harus terpisah dengan politik kekuasaan. Itu hak mereka untuk melarutkan segala nilai yang terkandung di dalam diri seseorang.

Tengah-tengah percampuran rasa, tertawa mungkin akan lebih nikmat dalam memandangnya. Sambil mencoba tertawa lepas sejadi-jadinya, Itu pilihan selain mencurahkan pada secangkir kopi hitam ini. 

Kala ingin menyudahi  ekpresi ini, entah datang dari mana tiba-tiba  aku teringat seseorang di kampung halaman. Iya hanya seorang pengurus mushola. Sebagaimana yang sudah dipahami masing-masing, pengurus ini akan lebih dulu berada di mushola jauh sebelum imam datang dan pulang paling belakang, tak jarang ia ditunjuk sebagai imam.

Dalam kehidupan sosial, ia tak sungkan untuk nongkrong bersama remaja. nongol di rumah RT saat rapat beralngsung, ikut terlibat dalam membersihkan got-got saat kerja bakti, dan lain-lain. Atas apa yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, dia kadang lebih sering mendapat undangan untuk warga ketimbang ustaz yang ada. Mungkin warga akan lebih mengagap dirinya sebagai ustaz

Sebagi orang mempunyai cukup pengaruh, dia juga mempunyai hak politik sama dengan warga kampung. Sebagai pandangan politik, ia tak sungkan mengkampanyekan siapa yang pilih sebagai presiden.

Namun, hal yang menarik aku tak pernah mendengar sekalipun dia membawa dalil-dalil agama saat berkampanye di warung kopi. Jika pilihan orang berbeda dengan dirinya, dia hanya tertawa tanpa mengeluarkan kata-kata kafir, sesat, dan kata-kata yang hanya membuat orang marah.

Salam, rindu ngopi bareng 






Rabu, 02 Juli 2014

Curhat Secangkir #Kopi

JalaRasa, #Kopi
Ini adalah kopi Toraja, mungkin karena dari daerah asalnya sehingga kopi dinamakan  kopi Toraja, mari untuk menghentikan pembahasan tersebut. Satu hal yang menjadi kesalahan saya adalah, saya baru mengenal kopi ini sehingga cukup terlambat menyadari akan kenikmatan kopi tersebut. Tapi, rasa-rasanya itu bukan mutlak kesalahan saya.

Saat ini, saya tengah menanti cairan panas kopi ini yang sebenarnya sudah tak ada sisa kesabaran lagi. Mungkin menunggu adalah daya tarik atau mungkin ada tips menarik lainnya tentang tata cara menikmati kopi ini. Berbicara tips, sejujurnya saya hanya penikmat kopi, cukup itu saja.

Dalam menunggu saya merasakan  sepersekian detik sungguh berasa dan saya sebisa mungkin  memberikan kesabaran.Mungkin ini untuk sebagian orang terlalu dilebih-lebihkan, itu hak mereka untuk berpikir demikian. Tapi, jelas bagi saya, kopi Toraja bukan sekadar kopi dan cairan hitam ini terlalu personal bagi saya.

Bagi mereka yang telah merangkai tips menikmati kopi, untuk satu hal saya sepakat menikmati kopi secara perlahan-lahan, membiarkan rasa yang sebenarnya terungkap dibalik rasa pahit. Iya, kopi tanpa gula ini yang selalu saya pilih. Bagi yang tak suka dengan rasa pahitnya tak usah digubris atau mencaci.

Saya merasa enggan untuk berkomentar ria terhadap kopi apa yang mereka pilih, apakah manis, kopi susu, atau lain-lainnya, itu sama saja kopi.  Sama halnya dengan kondisi Indonesia jelang Pilpres 2014.

Peralahan namun pasti, berharap leyapkan rasa muak yang tak terbendung lagi. Membiarkan marah ikut terlarut pada kopi, hal yang masih saya  lakukan dan kuharap antara mereka demikian.  Naif benar jika kopi dikaitkan dengan perebutan kekuasaan.

Baiklah, kemarahan saya secara terang benderang. Inikah yang disebut fanatik? Menyimak berita yang saling menjatuhkan, komentar miring mungkin itu sudah hal yang lumrah dalam demokrasi. Coba tanyakan pada para pengamat?

Masih cukup lumrah, saat kabar meninggal seseorang disikapi secara politik, apakah cukup lumrah sebuah media dengan lihai menggiring untuk bersepakat ria mengatakan dirinya adalah seorang komiunis atau apa juga mendukungnya dengan membawa ke persoalan akherat.

Jelas, ini telah keterlaluan dan saya sendiri telah melanggar bahwa blog ini enggan diisi dari berbau politik.  Atas keberhasilnya mengubah alur blog ini, saya ucapkan Selamat dan semoga tak terselip sedikitpun rasa sesal telah mendukung secara gila.




 

Selasa, 24 Juni 2014

#JoinKopi: Satu Cangkir Untuk Bersama

#JoinKopi, kata inilah yang membuat saya rindu pada sebuah masa, dimana hanya dalam secangkir kopi begitu banyak kisah. Mungkin beda  bukan untuk dibeda-bedakan, jika ada hal-hal berupa sindiran harap maklumin saja bahwa ini adalah tongkrongan hehehehe.

Bagi saya, #JoinKopi bukan sekadar menikmati kopi secara bersama-sama, bukan juga karena modal menipis, itu saja. Bagi mereka yang pernah merasakan bagaimana indahnya #JoinKopi tentunya paham benar makna yang terkandung di dalamnya. 

Saat ini, apakah engkau juga mengalami kerinduan yang serupa, sebuah kerinduan yang tengah membabi buta merasuki diriku. Sambil membayangkan, aku melihat bagaimana kita sama-sama menikmati hidangan cairan berhwarna hitam, memang dalam hal rasa kita mempunyai perbedaan meskipun dari secangkir kopi yang sama, apakah kita pernah memperpanjangkan perberdebatan. 

Itu semua karena kita telah membuat kesepakatan, tak suka dilarang mencela. Sebuah peraturan yang mungkin sampai saat ini masih berlaku kendati tak ada bukti secara tertulis.  Saya kira hukum ini masih cukup relevan, bahwa kita sama-sama menerima kenyataan itu, bahwa saat percaya kepada sesorang maka percayalah secara sungguh-sungguh. 

Sebuah kesungguhan, bahwa dia juga tak bermaksud mengecewakan kita, bahwa dia telah sungguh-sungguh menghidangkan secangkir kopi. Dan seandainya ada umpatan tak usah dipandang serius, yang penting dia telah merelakan waktu menyeduhkan kopi untuk kita bersama. 

Saat ini juga, mungkin ini terasa sangat-sangat muluk. Tapi, tak apalah jika dibilang muluk. Iya, saya hanya ingin dapat #JoinKopi dan bukan hanya untuk  kita saja, tapi juga semuanya tanpa terkecuali. Itu saja. 


Senin, 23 Juni 2014

Cita Rasa #Kopi Twitter Stempel Komunis

Kopi tak seperti pagi sebelumnya, entah benar cita rasa yang hilang atau terkontaminasi. Saya mencoba meneguk sekali lagi dengan penuh harap khasiat kopi sebelum-belumnya. Pagi ini, secangkir kopi panas sambil ditemani si burung biru mungil dan menggemaskan.

Berkat burung ini kabar apa yang tak bisa didapat? Dari yang tak jelas hingga paling tak jelas.  Kabar terkini Piala Dunia 2014,  soal adu kilik para pendukung capres-cawapres. Bisa disepakati bukan, jika kedua hal itu saat ini paling meriah di twitter.

Silakan saja mereka asyik dengan hoby dadakan mereka asalkan tak mengganggu dan saya masih tertawa. Oh, baru mengetahui semalam ada debat capres, siapa yang menang ditentukan siapa yang berbicara? Objektivitas sudah jadi barang langka.

Pada titik ini, kopi masih biasa saja.
Perlahan-lahan saya mulai mengerutkan kening saat ada kicauan soal komunis dan bertambah mengerutkan kening saat salah satu media online, ‘Debat Capres, Prabowo Disarankan Tanya Isu Komunisme ke Jokowi’, yang terlintas ini mau depat capres atau sejarah.

Wah, komunis begitu meriah dikicaukan beberapa  akun, @Ronin1946 dan tak luput pkspiyungan, dengan sejarah yang sepotong-potong atau sejarah olahan versi orba, mereka berbicara tentang segala macam tentang komunis dari tak bertuhan, pancasila, begitu mudah menuduh seorang sebagai komunis, cabut tap TAP MRPS No XXV/1966, dan lain-lain.

Wedus gembel, saya memang tak paham benar tentang apa itu komunis atau juga sosialis. Ada yang berpendapat secara tegas, komunis jelas sangat berbeda dengan sosialis. Dan saat ini saya hanya ingin bertanya siapa saja murid Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, kenapa Soekarno menggagas Nasakom, siapa Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo dan dengan cara apa dia meninggal?

Mungkin pkspiyungan juga sudah melupakan apa yang disampaikan K.H. Abdurrahman Wahid sebelum meninggal. Apa yang dilakukan beliau saat menjabat sebagai Presiden terkait masalah PKI?

Itu saja dulu dan terimakasih

Sabtu, 21 Juni 2014

Maaf #Kopi, Tak Ada Niat Khianatimu

Tak ada sedikitpun niatan menyakitimu apa lagi  sampai mengkhianatimu. karena itu, aku sebisa mungkin menjaga rasamu dari godaan manis. Mengenai hal itu, silakan saja kau pertanyakan langsung kepada warung kopi, @Cho_Coffee. 

Iya, tanyakan saja padanya, kapan aku meminta kepadanya untuk menaburkan gula ke dalam secangkir kopi. Sudah cukup jelas bukan, jika saat ini rasamu mulai memudar karena perlakukan gula. Hal ini  jelas itu bukan maksud hatiku untuk melakukannya.

Percayalah!!!! 

Dan saat ini mau dikata apa, kenyataan yang berbicara demikian bahwa sejumlah warung-warung tak ada yang benar-benar menyajikan dirimu secara utuh. Entlah, apakah kau sendiri tak berdaya menghadapi kekuasaan atau mungkin kau kalah bersaing sehingga kau sangat sulit hadir, selain di kafe-kafe.

Sudahlah tak usah kau ceritakan, aku yang mesti meminta maaf padamu bahwa saat ini aku mesti merelakan menerimu dalam bentuk yang tak jelas. Iya, gula ini telah menguasai tak ada dirimu yang ada hanya carian hitam manis. 

Tapi, apakah dengan marahku semua akan terselesaikan? Seperti tidak demikian. Entalha, mungkin untuk saat ini yang terbaik bagi kita adalah menerima kenyataan, bahwa diantara kita penuh dengan kekurangan meskipun memang menyebalkan.

Jumat, 20 Juni 2014

Bagi Saya, Ini Bukan Sekadar #Kopi

kopi toraja, toraja kopiAda yang bertanya kenapa mesti jauh-jauh hanya untuk bisa menikmati secangkir kopi hitam, pahit pula?

Apa juga yang mesti dijelaskan kepada orang-orang yang mempertanyakan hal demikian, sebagaimana saya mesti menjelaskan, apa yang dirasakan saat cairan hitam dari Toraja ini menempel pada ujung lidah. 

Yups, ini kopi Toraja dan sejujurnya saya sangat tak kuasa untuk menjelaskan apa lagi membuat orang-orang terpikat untuk menikmatinya. Sebab itu, saya lebih memilih membiarkan rasa ini mengungkapkan jati dirinya dengan sendiri tanpa ada sesuatu yang memaksa.

Namun, yang pasti-pasti saja bahwa saya sedang menikmati secangkir kopi tubruk asal Toraja. Dan bagi saya ini bukan sekadar ngopi melainkan lebih karena perasan cinta saya pada minuman hitam ini, itu saja.

Oleh sebab itu, saya merelakan diri meluncur ke @Cho_Coffee, sebuah warung kopi Indonesia yang terletak di Jalan Semanggi, Ciputat, Tangsel.

Dan seandainya, jika ada yang bertanya kopi apa saja yang biasa disajikan di @Cho_Coffee, silakan untuk mempertanyakan secara langsung.  Jelasnya, yang saya ketahui, disini menjual aneka macam kopi asal Indonesia dengan berbagai teknik penyeduhan.