Rabu, 11 Juni 2014

Rindu Alam, Rindu Kota

Mencari sesuatu yang telah lama tak dirasakan, aku merasa mulai merindukan begitu merindukan. Entah apa, mungkin karena dari sini lampu-lampu terasa begitu terlihat begitu eksotis,
Rindu Alam, Rindu Kota

Hanya berdiri sambil menahan udara khas pegunungan menembus tulang-belulang. Untuk sekian lamanya menatap segerombolan cahaya sudah cukup membuyarkan kenangan tentang bising, penat, semrawaut kota.

Masih dengan rokok dan segelas bandrek di lengan kiri, saya masih enggan beranjak, saya masih sangat menikmatinya. Pancaran ini ternyata tak hanya menawarkan keindahan saja, tapi juga seakan-akan menjadi magnet yang mempunyai daya tarik sangat kuat.

Mungkin karena ini, maka sangat wajar saja jika kawasan puncak menjadi pelarian orang-orang yang telah lama tinggal di Jakarta dan sekitarnya, salah satunya adalah saya. Tinggal di pinggiran selatan Jakarta, setiap hari dihabiskan dengan menatap layar monitor keluar sedikit disambut dengan bunyi klakson saling berbalas.

Untuk sesat saja, saya ingin merasakan suasana lain. Sebuah suasana yang sangat sulit dirasakan didapatkan di perkotaan. Panggilan akan kerinduan itu sudah begitu kuat sangat kuat yang membuat saya tanpa berpikir panjang mengiyakan ajakkan seorang teman.


Selasa, 03 Juni 2014

#Mari Join Kopi

Jalan, Stasiun "Silakan disruput"


Kata demikian ingin rasanya saya salurkan bagi mereka yang tak sempat sruput kopi, untuk mereka yang  sudah bermain dengan klakson sambil menarik gas sekencang mungkin, untuk begitu cepat berjalan menuju loket kerta api, dan juga mereka yang tak seberuntung aku dalam hal waktu. 

Salam hangat dari secangkir kopi. 

Pagi-pagi sekali saat matahari belum nampak sempurna, suasana sudah diramaikan pengendara kendaraan bermotor. Ada orang berdiri, ia mencari celah bagaimana caranya memotong laju, sayang baru maju beberapa senti dipaksa tempat semula hanya lantaran suara klakson.

Sementara itu, jangankan kata senyum saja rasa-rasanya sangat ngirit, seandainya ada kata hanya ala kadarnya. Padahal mereka berkumpul, bersentuhan, bertatap muka dengan jumlah cukup banyak bahkan sewaktu-waktu bisa bertambah atau berkurang semuanya ditentukan oleh kereta yang datang.

Bagi yang mereka yang pernah berada di stasiun Tanah Abang pagi hari mungkin sudah tak asing lagi dengan kondisi sedemikian rupa, bagaimana orang turun hanya untuk kembali jadi penumpang kereta api.

Bermodalkan panduan waktu, dengan sendirinya tiap-tiap dari mereka hanya akan mengikuti ritme perjalanan dari naik kereta yang satu lalu turun beli tiket dan kembali naik kereta berikutnya. 

Selamat jalan om, tante, emba, mas, dan lain-lainnya semoga sampai tujuan.