Senin, 23 Juni 2014

Cita Rasa #Kopi Twitter Stempel Komunis

Kopi tak seperti pagi sebelumnya, entah benar cita rasa yang hilang atau terkontaminasi. Saya mencoba meneguk sekali lagi dengan penuh harap khasiat kopi sebelum-belumnya. Pagi ini, secangkir kopi panas sambil ditemani si burung biru mungil dan menggemaskan.

Berkat burung ini kabar apa yang tak bisa didapat? Dari yang tak jelas hingga paling tak jelas.  Kabar terkini Piala Dunia 2014,  soal adu kilik para pendukung capres-cawapres. Bisa disepakati bukan, jika kedua hal itu saat ini paling meriah di twitter.

Silakan saja mereka asyik dengan hoby dadakan mereka asalkan tak mengganggu dan saya masih tertawa. Oh, baru mengetahui semalam ada debat capres, siapa yang menang ditentukan siapa yang berbicara? Objektivitas sudah jadi barang langka.

Pada titik ini, kopi masih biasa saja.
Perlahan-lahan saya mulai mengerutkan kening saat ada kicauan soal komunis dan bertambah mengerutkan kening saat salah satu media online, ‘Debat Capres, Prabowo Disarankan Tanya Isu Komunisme ke Jokowi’, yang terlintas ini mau depat capres atau sejarah.

Wah, komunis begitu meriah dikicaukan beberapa  akun, @Ronin1946 dan tak luput pkspiyungan, dengan sejarah yang sepotong-potong atau sejarah olahan versi orba, mereka berbicara tentang segala macam tentang komunis dari tak bertuhan, pancasila, begitu mudah menuduh seorang sebagai komunis, cabut tap TAP MRPS No XXV/1966, dan lain-lain.

Wedus gembel, saya memang tak paham benar tentang apa itu komunis atau juga sosialis. Ada yang berpendapat secara tegas, komunis jelas sangat berbeda dengan sosialis. Dan saat ini saya hanya ingin bertanya siapa saja murid Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, kenapa Soekarno menggagas Nasakom, siapa Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo dan dengan cara apa dia meninggal?

Mungkin pkspiyungan juga sudah melupakan apa yang disampaikan K.H. Abdurrahman Wahid sebelum meninggal. Apa yang dilakukan beliau saat menjabat sebagai Presiden terkait masalah PKI?

Itu saja dulu dan terimakasih

Sabtu, 21 Juni 2014

Maaf #Kopi, Tak Ada Niat Khianatimu

Tak ada sedikitpun niatan menyakitimu apa lagi  sampai mengkhianatimu. karena itu, aku sebisa mungkin menjaga rasamu dari godaan manis. Mengenai hal itu, silakan saja kau pertanyakan langsung kepada warung kopi, @Cho_Coffee. 

Iya, tanyakan saja padanya, kapan aku meminta kepadanya untuk menaburkan gula ke dalam secangkir kopi. Sudah cukup jelas bukan, jika saat ini rasamu mulai memudar karena perlakukan gula. Hal ini  jelas itu bukan maksud hatiku untuk melakukannya.

Percayalah!!!! 

Dan saat ini mau dikata apa, kenyataan yang berbicara demikian bahwa sejumlah warung-warung tak ada yang benar-benar menyajikan dirimu secara utuh. Entlah, apakah kau sendiri tak berdaya menghadapi kekuasaan atau mungkin kau kalah bersaing sehingga kau sangat sulit hadir, selain di kafe-kafe.

Sudahlah tak usah kau ceritakan, aku yang mesti meminta maaf padamu bahwa saat ini aku mesti merelakan menerimu dalam bentuk yang tak jelas. Iya, gula ini telah menguasai tak ada dirimu yang ada hanya carian hitam manis. 

Tapi, apakah dengan marahku semua akan terselesaikan? Seperti tidak demikian. Entalha, mungkin untuk saat ini yang terbaik bagi kita adalah menerima kenyataan, bahwa diantara kita penuh dengan kekurangan meskipun memang menyebalkan.