Minggu, 22 Maret 2015

Keindahan Kota dari Puncak

angkringanwartaHembusan angin menambah dingin, secangkir bandrek disertai isapan rokok  hanya sekadar  penyangga lutut agar tetap stabil dihantam hawa dinging, Memang keduanya tak cukup kuat yang memaksa tubuh ini bersandar pada pagar penyanggah bukit 'Rindu Alam'.

Sebuah bukit yang berada tepat di samping jalan kawasan Puncak.  Bagi yang pernah berkunjung kawasan Puncak mungkin sudah tak asing lagi dengan nama 'Rindu Alam'. Hampir setiap malam, kawasan tersebut rasanya tak akan pernah sepi pengunjung. Entalah apa yang dicari, mungkinkah hanya sekadar menghabiskan malam bersama pasangan, atau juga hanya ingin menikmati jagung bakar sambil menikmati cahaya ibu kota.

Apa pun itu, pastinya tiap-tiap pengunjung mempunyai maksud tersendiri meskipun hanya sekadar iseng-iseng semata. Hal ini juga berlaku pada saya.  Yups, sengaja datang dari pusat kota hanya ingin menikmati suasana pegunungan atau sekadar menghilangkan perasaan sumpek dengan rutinitas.

Dan setibanya, baru menyadari bagaimana kota menawarkan keindahan yang rasanya tak akan pernah dirasakan saat berada di tengah-tengah kota yang terlalu sumpek dengan segala macam keruwetan Ibu kota.

Dari atas sini, kemilau cahaya kota nampak begitu indah, mungkin ini juga terjadi pada sebuah laron mengerumungi lampu.


Bagaimana indahnya cahaya lampu-lampu tersebut, silakan disimak beberapa foto tersebut dan untuk lebih puasnya silakan kunjungi sendiri. (DS/angkringanwarta)





Minggu, 13 Juli 2014

#Kopi, Si Burung Mungil Penuh Sandiwara

#kopi, twitterSengaja kuracik kembali #kopi hitam, jika racikan ini berhasil maka ini cangkir yang ketiga. Iya, hari-hari ini aku lebih banyak menghabiskan waktu. Kopi menjadi rutinitas yang sulit dihindari, meminjam ungkapan almahrum Mbah Surip tentang kopi.

Sambil tertawa hahahaha,  ia mengatakan kurangi tidur dan perbanyak minum kopi hitam.  Apa yang dilakukan, bisa jadi lantaran Mbah Surip mulai merasakan stres tingkat tinggi saat popularitas terus menanjak, maka tak ada cara lain selain dengan sruput kopi.

Kopi hitam sebagai pereda rasa lelah sama halnya dengan vokalis grub musik Nirvana, Kurt Cobain yang melampiaskan melalui obat-obatan. Baiklah kita tidak sedang berdebat mengenai  hali ini. Jelasnya, saat sebagian raykaty Indonesia tengah dilanda keresahan usai pencoblosan Pilpres pada 9 Juli 2014.  Terlampau banyak permainan.

Bisa jadi tujuan adalah menyerang perasaan hingga mengalami kelelahan dan pada akhrinya pasrah. Bagaimana pun pada hari-hari ini menjadi pusat perhatian. Setiap orang mengundang dengan gempuran kosa kata yang terus mengerutkan kening. Lihat saja, bagaimana kata-kata yang dilontarkan orang yang menilai dirinya paling moralis berbicara tentang A dua detik kemudian b lalu C dan Z selanjut kembali ke A.

Pengagum murahan, picisan, mana mungkin jika bukan karena jabatan. Ada yang berani berturuh untuk ini, jika mereka para moralis dengan dalil-dalil agama tak lain bertujuan untuk sebuah jabatan. Jika tidak kenapa mereka rela menyediakan waktu untuk berkicau hanya untuk menuliskan kata-kata ‘kafir’ dan mengagap pilihanya adalah orang paling ‘suci’.

Lagi kuracik kopi, menatap twitter, burung mungil berwarna biru.  Menulusri burung ini berkucau, burung beo dapat dikalahkan dengan mudah. Akun-akun siap menghardik siapa saja yang dianggap lawanl, kalau perlu sampai sumpah serapah.

Oke, silakan hardik sesuka hatimu, silakan anggap dirimu serta kawan-kawanmu adalah orang pantas masuk surga, sendangkan lawan-lawamu hanya pantas menghuni neraka jahanam.