Senin, 05 Oktober 2015

Seandainya saja,..... Pasti Enak Bisa Keliling Indonesia

Seandainya saja aku menjadi salah satu perserta yang mendapatkan undangan, pastinya enak banget bisa ngelancong keliling Indonesia, apa lagi daerah yang telah lama terpendam. Sudah dapat dibanyangkan menikmati matahari tenggelam di pantai atau saat berada di ketinggian.

Belum lagi, menelusuri sejarah keunikan dari masing-masing daerah dan yang pastinya menyantap masakan khas daerah. Sungguh terasa enak. Namun sayang dan mau berkata apa lagi, kenyataan aku bukan salah satu perserta yang menemani 27 blogger dari penjuru dunia yang ditugaskan secara khusus untuk menelusuri kekayaan alam, budaya, dan Indonesia.

Yups, sebagaimana dilansir angkringanwarta ,  Kemenpar  akan mengundang para blogger dari berbagai negara untuk menelusuri Indonesia. Langkah ini diambil sebagai bentuk mempromosikan pariwisata Indonesia

Para travel blogger tersebut akan diajak ke tiap destinasi yang tersohor di Indonesia. Contohnya, ke Bandung, Yogyakarta, Gunung Bromo, Bali sampai ke Pulau Komodo. “Hari ini sedang di Bandung dan sore ini rencananya ke Saung Angkulng Udjo. Mereka sangat antusias. Kemarin saja baru landing, kita kasih makanan dan langsung foto-foto,” paparnya.

Hasil dari perjalan keliling Indonesia selama dua minggu dari tanggal 3 sampai 17 Oktober akan mereka kisahkan dalam bentuk tulisan atau foto dalam blog,  Facebook, Twitter dan Instagram.   “International Bloggers Trip berlangsung selama dua minggu, dari tanggal 3 sampai 17 Oktober 2015," ujar  Asisten Deputi Pengembangan Komunikasi Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kemenpar, Noviendi Makalam

Cara dimikian, dinyakini Noviendi sebagai salah satu cara ampuh untuk mempromosikan Indonesia.  Sebab, travel blogger yang diundang bukanlah travel blogger sembarangan. “Kita seleksi yang terbaik, mereka punya banyak followers. Begitu mereka posting, followers-followers di negaranya akan langsung melihat. Sangat efektif,” ungkapnya.

Adapun  ke 27 travel blogger dari berbagai negara, seperti dari Australia, India, Korea, Singapura, Malaysia, UK, Hong Kong, Italia, Belanda, Tiongkok, Taiwan, Spanyol, Prancis, dan USA,” ujar

Hingga kini sudah tiga fam trip yang mengundang travel blogger dari mancanegara, sebelumnya traveler blogger dari Tiongkok dan Singapura. Ke depannya, menurut Noviendi bakal terus diadakan acara seperti ini.

“Yang dari Tiongkok khusus pasar Tiongkok, yang Singapura kerja sama dengan Garuda Indonesia dan yang sekarang dari pihak Kemenpar sendiri. Kita mau fam trip ini ramai di negara mereka. Ke depannya, nanti kita evaluasi bagaimana kegiatan ini,” pungkasnya.





Selasa, 22 September 2015

#Ngelancong Kota Tua, Penertiban PKL


#Ngelancong kali ini ialah menelusuri gedung-gedung penuh dengan saksi sejarah. Yups, bagi warga Jakarta mungkin sudah tak asing lagi dengan namanya Kota Tua. Sampai kali ini, saya sendiri belum benar-benar mengetahui apa yang melatar belakangi kawasan tersebut dinamakan kota tua.

Jawaban yang paling mungin dan ini merupakan hasil karangan saya semata, kawasan tersebut di sebut kota tua lantaran banyaknya bangunan kono. Sebuah bangunan hingga kini masih berdiri dan menjadi saksi bisu atas beragam persitwa masa lampau.

Anda boleh sepakat atau membantanya dengan memberikan beragam pandangan. Itu hak Anda dan saya menerima dengan sepenuhnya.

Terlepas  persoalan seputar apa yang menjadi penyebab kawasan tersebut disebut Kota Tua.  Saya mencoba atau hendak lebih memfokuskan diri pada peralanan ke kota tua. Setibanya saya di stasiun Kota Tua matahari sedang terik-teriknya.  Rasa haus sudah tak kuat lagi ditahan-tahan dan pada akhirnya saya bergegas  menuju salah satu penjual di halaman Stasiun kota Tua atau PKL.  Hampir setengah botol ukuran besar mengalir kerongkongan.

Tiba-tiba saja para pedagang berlarian sambil menentang barang dagangan dan ada juga yang mendorong gerobak.  Kejadian yang tak berlangsung lama ini ternyata cukup membuat aku penasaran. Ternyata, mereka ketakutan barang dagangannya disti Satpol PP.

Sejumlah pasukan berseragam coklat tanpa intruksi langsung mengakut barang dagannya yang belum sempat diamankan. Dalam seketika halaman Stasiun Kota Tua bersih dari para pedagang.

Namun hal tersebut tak berlangsung lama, saat dirasa aman para pedagan satu-persatu kembali memadati. Mereka kembali melanjutkan ativitas berjualan. Menurut salah satu pedangang, ditertibkan hal demian sudah biasa. “Hampir setiap hari dilalaukan penertiban,” ujarnya.