Jumat, 29 Juli 2016

#Ngelancong Kota Tua, Saat Rasa Penuh Warna

Jala Rasa,- Secara kebetulan aja mampir kawasan Kota Tua, Jakarta. Sebuah #Ngelancong kebetulan alias tanpa benar-benar niat akan kembali menepaki bangunan yang berdiri puluhan tahun lamanya.

Usia bangunan ini mungkin sama dengan bapaknya kakek. Entalah, aku tak terlalu berminat menelusiri sejarah kapan tepatnya bangungan ini berdiri.

 Saat rasa penuh warna dan garisan penuh warna terasa begitu memikau. Tak perlu ada alasan mengapa sebagaian orang menyukai pelangi. Begitu juga dengan aku yang selalu berlari ke sawah saat matahari mulai menampakan diri usai hujan.

Berdiam diri hanya untuk mengatamati setiap lengkungan warna lalu percaya begitu saja bahwa itu merupakan selendang bidadari yang sedang mandi. Wah cerita bisa merambat Jaka Tarub yang berhasil mencuri selandang putri. Wah seandainya saja, ya sudah lah bahwa faktnya sampai sekarang aku tak kunjung mendapatkan selandang putri.

Menyinggung soal keberagaman warna teringat ungkapan seorang guru, apa yang membuat pelangi menarik? Silakan pilih warna yang paling kamu suka yang menurut kamu unggul. Tapi, cukup hanya kamu, enggak ada paksaan soal pilihan warna begitu juga dengan yang lainnya. Maka biarkan orang lain memilih warna apa yang menurutnya menarik.

"Banyak orang yang menyebut, Indonesia begitu indah lantaran keberagaman, satu dengan yang lainnya hidup berdampingan tanpa ada paksaan. Karena itu, indonesia disebut dengan multikultur. Tapi sayang, saat pilihan warna yang dijadikan paling hingga dengan kekusaannya menghilangan warna-warna lainnya, apakah pelangi akan tetap menjadi menarik," katanya.

Sebuah ungkapan yang tak kunjung dimengerti dan hanya berbalas sebuah anggukan. Sebagaimana emngamini, pelangi adalah selandang bidadari yang dijadikan jalan dari khanyangan menuju tempat pemandian. (Ayodia Kelana)





Sabtu, 16 Juli 2016

Dan Pertemuan itu, Langsung Dilahap

Jala Rasa,- Sesuai dengan judulnya, ini bukan membahas perihal resep atau tata cara membuat makanan yang bernama kue cucur, jika Anda ingin mendapatkan resep silakan cari di blog lainnya atau bisa juga membeli buku resep.

Ini perihal pertemuan saya dengan kue cucur setelah sekian lama. Maklum sebagai anak rantau yang tinggil di pinggiran kota Jakarta ternyata agak susah mendapatkan makanan idola sewaktu di kampung halaman. Mungkin saja kue cucur ini masih banyak di pasar-pasar tradisional, misalnya Ciputat.

Sebuah pertemuan tanpa disangka-sangka ini bermula dari #Ngelancong usia Magrib menuju  pinggiran Depok yang berbatas dengan Bogor, yakni Bojong. Dan kembali pada cerita lama, yakni sudah menjadi kebiasaan hampir setiap perjalanan menjumpai dengan kata menyasar.

Kejadian serupa terulang kembali, ketimbang bingung maka keputusan saja singgah di sebuah warung kopi. Ternyata dari sana pertemuan terjadi dan tanpa berpikir panjang langsung aja kulahap makanan manis ini panas-panas apa lagi sesuana gerimis.