Jala-Rasa,- Berbicara tentangnya tak cukup kata untuk dapat mendeskripsikannya. Mungkin sudah tepat jika ia hanya untuk dinikmati apalagi sambil sruput #kopi. Oh, sungguh terasa damai. Siapa coba yang tak akan terpikat dengan pancarannya?
Setahu saya sepanjang #Ngelancong, sudah banyak orang yang tergila-gila termasuk sastrawan sekaliber Seno Gumira Ajidarma nekat mencuri senja untuk pacarnya. Terbanyang bukan, bagaimana daya pikat senja.
Yups, semuanya tentang senja. Aku untuk kesekian kali terpengarah menatapnya. Sial, ia terlalu cepat berlalu begitu saja. Bisa jadi ini yang membuat sebagian orang stres sehingga ia kembali mencarinya.
Pada senja ini, aku kembali mencoba mengabadikannya. Sengaja hal ini dilakukanya bukan lantaran esok tak ada waktu untuk menikmatinya, tapi sebagai bentuk antisipasi jika pada suatu hari ada yang mencurinya dan masyarakat kembali dihebohkan dengan berita pencurian senja. Berita itu diberi judul besar-besar di tempatkan pada halaman depan.
Yak sudahlah yang pasti untuk beberapa menit lamanya aku hanya menikmati senja di samping markas www. jasa-sablon.com. Sebuah markas tempatnya pembuatan kaos dan sablon manual. Hanya itu saja, dan aku sepertinya tak akan pernah bosan untuk kembali menatapnya meskipun tak akan pernah jelas kapan dan diman kejadian itu berlangsung.
Sabtu, 27 Agustus 2016
Selasa, 02 Agustus 2016
Bukan Sedang Berbagi #Kopi
"bukan maksudku mau berbagi nasib, nasib adalah kesunyian masing-masing,"
Petikan Puisi Chairil Anwar
Nasib apa yang hendak kau bagi dan kepada siapa ingin kau berikan? Dan aku tidak sedang mencoba menafsirkan ulang atau berlagak seolah kritikus sastra saja.
Jika benar demikian tentunya nasib tak seperti sedang menikmati secangkir kopi berdua alias join kopi atau sedikit mengenang masa lalu perihal sebatang rokok untuk dihisap ramai-ramai. Mungkin memang sudah tak bisa disangkal lagi, nasib adalah kepemilikan masing-masing.
Menesuliri lorong kesendirian usai menghadiri pesta, layaknya kisah yang diceritakan -Pramoedya Ananta Toer pada sebuah roman
Menesuliri lorong kesendirian usai menghadiri pesta, layaknya kisah yang diceritakan -Pramoedya Ananta Toer pada sebuah roman
"Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang... seperti dunia dalam pasarmalam. Seorang-seorang mereka datang... dan pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana"
-Pramoedya Ananta Toer
Ya sudahlah mau dikata apa lagi. Yang pasti saat ini, aku tengah menikmati secangkir kopi sambil berharap ada seorang yang bersedia menemani malamku. Berharap penuh harap setidaknya berbagi kopi.
Kemudian aku menghampiri dan yang terlihat hanya pantulan dari wajahku penuh goresan. Mungkin cerimin ini terlalu kusam tak ada wajah keceriaan.
Kemudian aku menghampiri dan yang terlihat hanya pantulan dari wajahku penuh goresan. Mungkin cerimin ini terlalu kusam tak ada wajah keceriaan.
Langganan:
Komentar (Atom)

