Sabtu, 04 Maret 2017

Ngelancong, Bakul Pecel

Ngelancong atau bisa juga disebut juga mengunjungi (berkunjung) pada sebuah tempat. Sebuah aktivitas kunjungan kali dapat dikatakan  memang bukan sebuah tempat yang begitu eksotis sehingga mengundang sejumlah pelancong hingga luar Indonesia.

Bagaimana dibilang istimewa, saya cuman mengunjungi seorang teman di tempat usahanya. Memang secara kebetulan saja, dia lebih dahulu bergerak bidang jasa dan obrolan tak jauh-jauh dari putaran bisnis. Tapi, setidaknya cukuplah untuk merefres otak dari cerita yang terkesan itu-itu saja, itung-itung cuci mata.

Dan saya mencoba menyakini, setiap perjalanan akan selalu terdapat hal-hal yang menarik tinggal sejauh mana menangkap moment di sela-sela putaran waktu meskipun dalam obrolan hanya seputar ngalor-ngidul enggak jelas, terpenting ada kopi hitam.

Dalam perjalanan obrolan datang bakul pecel ( ada juga yang menyebutnya dengan pecal), sebuah makanan berupa sayuran dengan campuran bumbu kacang. Kisah bakul pecel ini pun mengingatkan pada cerita beberapa tahun yang lalu, tepatnya saat saya masih berkecimpung dalam dunia organisasi.

Kala itu, saban bakul tersebut datang, saya bersama teman-teman selalu iuran untuk membeli pecel. Setidaknya lumayan buat ganjal perut mengingat anak kost yang tak mempunyai kos-kosan yang selalu kabur tiap memasuki bulan baru.

Bicara perihal pecel versi Wikipedia, makanan pecel belum diketahui dari daerah mana berasal cuma sebuah dugaan semata, pecel merupakan makanan yang berasal dari Madiun, Jawa Timur. Dugaan tersebut lantaran bumbu kacang yang mirip dengan sate Ponorogo.

Bagiamana cerita selanjutnya soal bakul pecel, silakan simak saja beberap jepretan photograpery amatir ini





Sabtu, 28 Januari 2017

Pada Kedai Kopi Itu, Cerita Baru Tersaji

Dan kita sengaja memilih tempat ini, iya pada sebuah kedai kopi yang akan membawa pada sebuah ketukan-ketukan terkadang terasa lebih romantis atau sebaliknya ketukkan yang meluluhlantahkan rasa, pasti kedai kopi bagi selalu mempunyai cerita yang begitu unik seunik kopi yang tersaji.

Bukankah begitu, aku dan kamu selalu mencari alasan yang tepat untuk mengumbar rasa.

Tak adalagi kepulan asap menghantarkan aroma, cairan hitam dingin yang pada mulanya  terasa begitu menggubu seakan ingin cepatlah apalagi yang akan kau tunggu?

Lalu tanpa aba-aba mata menatap mata.    

Apalagi yang bakal diungkap saat tetesan kopi menyentuh ujung lidah? Kata-kata bisu dan aku tak cukup lagi melahirkan sebongkah bualan, kopi ini dingin.

Yak sudahlah kita nikmati saja mau dibilang apalagi memang sudah begitu adanya, waktu menyisakan kenangan  dan mengantarkan cerita baru yang bisa saja menjadi unik dan cerita indah kelak.

Pada kedai itu, kopi ini dingin dan lidah masih saja kelu lalu mata menatap mata.

Kopi ini dingin, maukah kamu singgah pada kedai kopi selanjutnya dan membiarkan cerita unik lahir. Sebuah cerita yang penuh harap pada sebuah waktu yang mana aku dan kamu tak lagi rasa malu menatap penuh gelora.

Dan sebuah cerita layaknya dongeng pengantar tidur anak-anak.