Senin, 27 April 2015

Melancong ke Dieng: Festival Lampion dan Festival Potong Gimbal

Tulisan ini merupakan kisah #Melancong  Tia Agnes bersama sobat karibnya ke Dataran Tinggi Dieng. Perjalanan yang sempat dimuat di situs www.angkringanwarta.com, tak hanya berkisah tentang hawa dingin Dieng dengan segala macam keindahan, tapi juga mengenai Taicing: Festival lampion dan jazz di atas awan.

Sebuah festival yang sudah keempat kalinya ternyata masih mengundang pesona wisatawan asing maupun lokal.

Perjalanan diawali,  saat seorang sahabatnya langsung mengiyakan. Sebuah jawaban yang seakan tanpa dipikirkan panjang terlebih dahulu sehingga perjalanan kami terasa dadakan dan tanpa rencana.

Jawaban tersebut membuat saya tanpa berpikir panjang  langsung menghubungi tour travel Tukang Jalan untuk pesan seat menghadiri Trip Dieng Culture Festival keempat. Sambil mempersipkan segala macam keperluan dari hal-hal remeh hingga jaket tebal dan sendal gunung, saya tersenyum tentang Dieng.

Yups, memang kami sejak masih kuliah dulu, kami selalu tertarik dengan Dataran Tinggi Dieng dengan segala keindahannya, maka tak mengherankan jika kami selalu membicarakannya.

Pada Jumat pekan lalu, tepat pukul 6 sore, kami sudah tiba di meeting point Plaza Semanggi, Jakarta Pusat. Rasa tak sabar ingin segera pergi dari Jakarta menuju dataran para dewa. Kata Dieng sendiri diambil dari bahasa Kawi, di (tempat) dan Hyang (Dewa).

Dari Jakarta perjalanan menuju Dieng, Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara dan Dieng, Jawa Tengah sekitar 21 jam. Padahal jarak tempuh biasanya yaitu 6 hingga 10 jam. “Ini karena elf (mobil sewaan) telat datang, macet di Cikampek, dan ada longsor di Wonosobo,” kata tour leader Tukang Jalan, Wira Adi Darma.

Alhasil, dalam hati kami, ini adalah perjalanan yang tadinya dirasa mewah menjadi ajang ilmu ikhlas. Sampai di Dieng, azan magrib sudah berkumandang. Hari pertama festival Dieng juga sudah dimulai, malam itu akan ada pagelaran wayang kulit dan festival lampion laiknya perayaan Waisak di Candi Borobudur.

“Gue mau bikin make a wish ah, kalau nanti terbangin lampion,” kata sahabat saya, Mimi Fahmiyah. Sayangnya harapan tersebut pudar. Di tengah gelap gulita kompleks Candi Arjuna, panitia hanya menyiapkan lampion seadanya dan tak sebanding dengan jumlah pengunjung. Kami pun harus mengemis meminjam lampion untuk ajang foto narsis.

Awalnya, festival lampion dibuka oleh Bupati Banjarnegara Sutedjo Slamet Utomo. Ketika satu lampion sudah terbang, riuh tepuk tangan yang menonton tampak keras terdengar. Saya pun tak berhenti mengucap syukur. Dalam hati, tak dapat yang di Waisak, di Candi Arjuna pun jadi.

Beberapa kali kembang api juga dinyalakan. Meriah sekali! Pengunjung festival bertambah banyak. Ratusan manusia di sana masih setia menonton hingga lampion terakhir terbang. Namun pertunjukkan belum usai, di tanah lapang tak jauh dari Candi Arjuna akan tampil pagelaran wayang kulit.

Malam belum usai, dan perut sudah keroncongan. Sepanjang kawasan wisata Dieng, kami mencari mie ongklok yang terkenal. Tiga tempat dilalui, tak membuahkan hasil. Dengan kecewa, kami pulang ke homestay untuk istirahat. Esok adalah inti festival yang membuat saya penasaran setengah mati selama ini.

Karena itu, saya tak dapat tidur nyenyak, ingin rasanya pagi segera datang. Pada akhirnya, saya terbangung kurang lebih pukul tiga subuh. Kami langsung bergegas menjalankan rencana awal, yakni menikmati matahari terbit di Bukit Sikunir. Usai dari sana, ribuan manusia sudah tampak memadati kompleks Candi Arjuna. Kami pun bergegas.



Sebelum mencapai Candi Arjuna, ritual sudah diawali dengan kirab di halaman rumah pemangku adat Dieng yakni Mbah Naryono. Kemudian, prosesi dilanjutkan keliling desa hingga menuju halaman candi.

Tujuh anak berambut gimbal yang akan diruwat yakni Lista dari Wonosobo, Argifari Yulianto dari Banjarnegara, Mazaya Filza Labibah dari Bekasi, Alira dari Wonosobo, Sri Nuria dari Banjarnegara, Sasabila dari Wonosobo dan Tita dari kota yang sama.

Mereka dibawa ke Sendang Maerokotjo atau Sendang Sedayu guna penjamasan atau pencucian rambut sebelum dipotong. Sedangkan airnya menggunakan air jamasan dan kembang tujuh rupa dari Tuk (mata air) Bimalukar, Tuk Sendang Buana (Kali Bana), Tuk Kencen, Tuk Goa Sumur, Kali Pepek, dan Tuk Sibido.

Wisatawan lokal dan dalam negeri serta penduduk bercampur. Bagi saya, lokasi ini tiba-tiba seperti pasar tumpah. Lebih ramai dari festival lampion semalam. Banyak tukang jajanan yang berseliweran.

Sampailah di inti prosesi yakni pencukuran rambut gimbal di Candi Puntadewa, kompleks Candi Arjuna. Di depan candi, Mbah Naryono berdoa terlebih dahulu ke Tuhan Yang Maha Kuasa. Kala itu, cuaca cerah.

Para pengunjung melihat dengan seksama sesuai dengan urutan ID Card yang mereka bayar. Untuk kelas VIP yang hanya berjarak 20 meter dihargai Rp 75 ribu. Posisi kedua yakni Rp 30 ribu dengan jarak 50 meter. Selanjutnya adalah posisi gratis.

Para permintaan ruwat pun dibacakan, ada yang minta sepeda mini berwarna merah, baju pesta, kambing, beragam makanan hingga tempe rebus. Selain para pejabat setempat yang hadir, di sana juga ada Duta Besar Slovakia Stefan Rozkopal yang ikut memotong rambut Argifari Yulianto. Serta Duta Besar Republik Seychelles Nico Barito yang memotong rambut gimbal Mazaya Filza Labibah.

Prosesi terakhir adalah Larung yakni rambut yang sudah dicukur dihanyutkan di telaga Balekambang. Prosesi festival inti sudah selesai. Hati kami pun lega sudah melihatnya dan membawa foto sebagai kenang-kenangan. Pada malam harinya, masih akan ada pertunjukan musik Jazz Awan. Sayangnya tak bisa menonton.

Sebelum kembali ke kerasnya ibukota, kami menyempatkan makan mie ongklok yang sempat tertunda. Ada sebuah rumah makan di depan Candi Arjuna yang menjualnya. Antrian mengular, perut lapar, dan penasaran dengan rasanya. Dengan terburu-buru, kami memesannya dibungkus.

“Oh, gini toh rasanya. Manis-manis gurih kayak Bakmi Jawa, ha..ha..ha..,” kata Mimi. Kami pun tertawa dengan rasanya. Mie ongklok yang kami icip adalah perpaduan mie, sayuran hijau, dan kuah kental yang berasa asam manis. Petualangan selesai, sampai jumpa tanah Dihyang tahun depan..

Rabu, 25 Maret 2015

Ngelancong Pulau Serangan ke Sarang Penyu

Oleh Milliya

Jalarasa,- Jika kamu tengah #ngelancong ke Bali, ada baiknya luangkan waktu sejenak
untuk mengunjungi sebuah Pulau Serangan atau disebut Pulau Penyu, dijamin enggak bakal nyesel. Keindahan alam serta yang begitu eksotis disertai penangkaran dan tak kalah adalah menyentuh langsung penyu.


Pengalaman itu dirasakan langsung oleh saya, awalnya hanya sekadar iseng-iseng menghabiskan waktu senggang dan kebetulan dapat pinjaman kamera. Memang waktu liburan paling enak dihabiskan buat liburan, Sabtu [11/5] ketimbang bengong, itulah yang membuatnya begitu bahagia saat teman saya, Hepi bersedia mengantarnya ke tempat penyu.  


Singkat cerita, kami langsung meluncur dengan mengendarai sepeda motor, saya dibonceng Hepi, menuju Pulau Serangan. Letaknya 5 km di sebelah selatan kota Denpasar, Bali. Dengan panjang pulau 2,9 km dan lebar 1 km. 30 menit dari kostan saya di Jl. Sedap Malam-Sanur


Sesampainya, saya langsung tergiur untuk langsung ngambil foto Pulau Serangan yang danaunya bening. Nampak tenang dari kejauhan. Gagal. Sore itu Serangan sedang surut. Nampak tanah basah sisa genangan air. Berlumut coklat kehitam-hitaman.


Melihat saya yang tengah murung lantaran gagal mewujudkan keingingan, Hepi, mengajak saya ke penangkaran Penyu. Letaknya didalam Pulau Serangan. Saya tidak menolak.


Sore dan matahari di Bali, masih terik. Saya memasuki pintu gerbang yang tidak berpagar, lantas memarkir motor di lahan teduh. Ada dua patung penyu besar, dua bangunan serupa kantor. Satunya kafe.

“Kok sepi ya,” komentar saya. “Jangan-jangan enggak ada orang.”

“Ada penjaga,” jawab Hepi, singkat.

Dari arah kafe, lamat-lamat seorang lelaki berperawakan besar menghampiri kami. Ia menyambut kedatangan kami dengan senyum. “Mau lihat-lihat.” Serunya, sambil mempersilakan saya dan Hepi, untuk mengikutinya. Saya dan Hepi, manut. Mengikuti langkahnya dari belakang.


“Ini penyu hijau dan itu penyu lekang,” unjuknya sambil memainkan air di kolam penyu. Empat kolam berukuran 1.5m saling berhadap-hadapan. Ada tiga jejer kolam sebagai tempat penangkaran.


Lelaki yang memandu saya sore itu namanya, Bli Made. Delapan tahun sudah Ia, bekerja di penangkaran penyu di Serangan. Sambil melihat-lihat beberapa koleksi penyu yang dirawat khusus. Bli Made, menuturkan muasal ihwal penyu yang perlahan punah.


“Dahulu, penyu dikonsumsi sebagai makanan sehari-hari. Baik itu telurnya atau dagingnya sekalipun.”
Saya merinding membayangkannya. Mencium bau amis yang menghilangkan selera makan. Telur penyu. Daging penyu. Isi kepala saya berisi potongan gambar masakan-yang saya pastikan sangat tidak enak. “Dasar manusia. Apa saja serba dimakan,” umpat saya. Hepi, tersenyum. Saya kembali menggerutu.


“Khususnya di Bali, penyu-kan dipakai untuk kebutuhan upacara. Biasanya, kepalanya saja sih,” lanjut Bli Made. “Penyu lama bertelurnya. Sedang yang makan setiap hari dan banyak. Jadilah penyu terancam punah.”


Untuk melindungi populasi penyu, th 1999 pemerintah mengeluaran UU yang memutuskan bahwa Penyu adalah hewan yang dilindungi. Meski demikian, penangkaran penyu di Pulau Serangan ini tidak menerima subsidi dari pemerintah.


“Penangkaran ini adalah hasil swadaya masyarakat. Pengelolaannya dibawah banjar,” terang Bli Made.

Butuh 10-25th untuk penyu bisa bertelur. Lama. [Jadi kalau diusia 25th kamu masih jomblo santai aja, ada temennya tuh: penyu :D] Sekali bertelur berojolnya 150 butir. Menetas dalam kurun waktu + 50 hari. Setelah dikubur didalam pasir.


Jam tangan saya menunjukan waktu pukul lima sore. Setelah mengitari beberapa kolam penyu dan melihat-lihat isi museum penyu. Saya berpamitan kepada Bli Made. Sebelumnya cuci tangan dulu, bau amis. Lantas meneruskan perjalanan muterin pulau Serangan.